Gubernur Papua Barnabas Suebu bakal mendapat tawaran istimewa dari UNFCCC
yang tengah berlangsung di Nusa Dua Bali 3-14 Desember. Ia diundang khusus oleh
PBB untuk hadir di UNFCCC, terkait tawaran proyek ’jual-beli’ emisi karbon,
berkat kebijakannya menghentikan penebangan hutan atau moratorium di
wilayahnya.
Dalam mekanisme perdagangan karbon itu Papua menghendaki bisa langsung
berhubungan dengan PBB - tanpa melalui pemerintah pusat - sebagai
perwujudan otonomi daerah. Namun pemerintah RI mewajibkan semua mekanisme
proyek pembangunan bersih lewat pusat, karena itu merupakan kewenangan negara
untuk berhubungan dengan luar negeri.
Nanggroe Aceh Darussalam yang mengikuti jejak Papua dengan melakukan
moratorium atas penebangan hutan, juga mendapat tawaran proyek CDM khusus dari
PBB. Namun gubernur NAD tidak
diundang dalam konferensi di Bali itu. Salah satu provinsi di Brasil juga
memperoleh tawaran istimewa soal yang sama, sehingga di dunia hanya ada tiga
propinsi.***