NASIONALISME YANG KINI MERANA



Yang tersisa dari hati kita adalah rasa sedih dan priatin dengan wajah Politik dan Sosial Indonesia yang kian tak tertata dari dekade ke dekade, ingin rasanya kita sebagai wong cilik- kalau toh mampu- ikut menyelesaikan secepatnya konspirasi politik antara oknum pejabat / pemimpin nasional satu sama lainnya, yang sudah banyak menyita waktu, tenaga, pemikiran mungkin juga biaya. Adakah harapan bagi mereka untuk bahu membahu mengkonsep pembangunan yang real dan relevan demi ketentraman wong cilik.

Maka tidak heran bila disana-sini sering kita lihat bentrokan fisik antara suporter sepakbola yang beringas , seperti kasus brutalnya suporter Persebaya di atas Kereta Pasundan pertengah Januari lalu, atau bentrokan fisik antara suporter Persijap denghan PSIS, Sabtu tanggal 30 Januari yang lalu di Jalan Sioliwangi Semarang, yang membawa korban 18 supporter Persijap luka-luka.

Apabila kita bersedia lebih teliti lagi untuk menyimak pesan moral para Pahlawan Nasional kita, baik dari buku sejarah di bangku sekolah, maupun melalui informasi publik baik formal maupun informal, sejenak kita pasti akan berpikir untuk sekedar mengevaluasi. Mengapa terjadi perbedaan yang signifikan perihal tanggung jawab moral terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, antara kita dengan para Pahlawan Nasional, yang telah meletakan dasar - dasar berbangsa dan bernegara.

Kita mungkin menyadari sepenuhnya, bahwa momentum kita dengan masa perjuangan bela negara para Pahlawan Nasional sungguh berbeda jauh, secara rinci perbedaan tersebut lebih didominasi karena perubahan sosial, politik, ekonomi dan faktor penyebab lain. Yang secara perlahan tapi pasti merubah mentalitas ini, hingga mencapai fase yang sangat memprihatinkan. Hal ini dicirikan dengan lunturnya nasionalisme dan patriotrisme yang melekat pada generasi sekarang hingga Tahun 2010 ini.

Apalagi pada masa – masa awal abad ke – 20 , gejala kehidupan materialistis semakin menggelora, karena dikondisikan demikian oleh fungsi strategis energi yang mengalami kenaikan harga, globalisasi semua aspek kehidupan manusia, semakin terbatasnya sumber daya alam,, masalah demografis dan yang lebih signifikan lagi adalah peningkatan intelektualitas masyarakat kita. Lantaran semakin besarnya tuntutan materi dan semua faktor yang menjadi pembatas tersebut di atas, maka sudah barang tentu masyarakat kita akan segera meninggalkan sikap hidup yang dilandaskan pada kepedulian sosial di lingkungannya. Seperti halnya dengan pengabdian para pahlawan yang dahulu memperjuangkan berdirinya bangsa dan negara ini dengan mengorbankan apa saja yang dimilikinya.

Dan anehnya sikap ini telah menggejala secara luas di lingkungan dan kultur manapun, yang lebih memprihatinkan lagi sikap seperti telah membudaya dengan kuatnya. Bahkan sikap inipun telah merambah keara pejabat dan pemimpin nasional. Betapa tidak sudah berapa puluh pejabat/ mantan pejabat yang telah masuk penjara atau sedang diproses verbal dijerat pasal tindak pidana korupsi. Memang bukan jamanya lagi kita untuk bahu – membahu memanggul senjata atau dengan perjuangan segala lini guna mengusir penjajah, namun perlu kita ingat pula bahwa setelah tercapainya national building yang telah disepakati, baik wilayah geostrategi konstitusi, ideologi, sistem politik serta cita – cita yang ingin diwujudkan bersama di masa mendatang.

Tentunya kita harus tanggap pula dalam bahu - membahu pula demi mewujudkan cita – cita luhur dari bangsa kita. Karena perlu kita ketahui negara dan bangsa manapun yang berdaulat di muka bumi ini tentunya memiliki cita-cita luhur yang harus diwujudkannya. Jelaslah hal ini tentunya menimbulkan keprihatinan nasional. Seperti ysng dilansir oleh Prof, Dr. Muhammad Mahfudz MD seusai menerima Budai Award dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Senin 21 Desember 2009. Bahwa ancaman negara pada Tahun 1945 adalah nasionalisme yang harus dimiliki oleh masyarakat, namun era sekarang yang akan mengancam stabilitas nasional adalah permainan hokum yang marak terjadi.

Pada kesempatan lain , saat penandatanganan nota kesepahaman antara MK, Undip dan Pemprov Jateng pada Hari Senin , 21 Desember 2009, Beliau menandaskan bahwa konsitutusi yang meruapakan harga mati sebuah negara yang hanya bisa dijaga dengan sikap nasionalisme. Namun yang terjadi sekarang justru jauh panggang dari api, lantaran yang mengalir deras di tubuh masyarakat ini adalah pemenuhan kebutuhan pribadi, oleh oknum – oknum birokrasi, yang menyedot kekayaan negara kita, tanpa memiliki rasa malu.

Sehingga akhir akhir ini, telah kita ketahui bersama adanya tindakan yang tak terpuji dari oknum – oknum pejabat, yang menggemparkan publik. Dan tidak tanggung- tanggung lagi oknum pejabat yang terlibat dalam hal ini, adalah oknum penegak hukum, yang sebenarnya sangat diharapkan oleh masyarakat dengan kinerjanya yang diharapkan tajam, solid, independen dan berkinerja dengan landasan supremasi hukum. Lepas dari tuduhan publik pada oknum – oknum tersebut terbukti secara hukum atau tidak , namun pada kenyataan hal itu telah melahirkan krisis ketidakpercayaan oleh arus bawah. Yang pada gilirannya nanti dapat mengakibatkan multidimentional crisis, yang dikhatirkan melahirkan power people yang bisa merusak tatanan yang sudah mapan dewasa ini.

Oleh karena itu, hendaknya semua unsur daya-dukung, cendekiawaan, politisi dan seabreg lainnya, yang mampu memberikan kontribusi yang langsung atau tidak langsung terhadap eksistensi negara ini, hendaknya memulai mencanangkan luncuran program kerja yang taktis, transparan dan berdaya guna tinggi, untuk memperbaiki distorsi moral yang sekarang sedang berlangsung, dengan didahui keteladanan diri sendiri kepada masyarakat luas.

Tentunya langkah ini sangat berat dan penuh tantangan, karena maklum saja. Kita disodorkan pada pembentukan konsep social carakter, yang menelibatkan lebih dari 200 juta Penduduk Indonesia, yang sedang dilanda sakit parah berupa krisis ekonomi berkepanjangan, krisis moral, politik serta nasionalisme dan patriotisme . Akan tetapi bila kita bersedia mengurai benang kusut, mulai dari merefleksikan mentalitas para Pahlawan Nasional kita kepada diri kita masing-masing, yang mengorbankan apa saja yang bisa ditebus demi kemerdekaan dan kejayaan Negara Indonesia yang kita cintai. Maka perjuangan untuk meraih prestasi kita yang luhur, adalah bukan isapan jempol belaka.

Bukankah perjuangan semacam in jauh lebih ringan dibanding dengan bangsa ini harus menerima konsekuensi logis yang fatal, akibat krisis ketidakpercayaan rakyat terhadap para pejabat dan pemimpin kita, atau bisa juga dalam kasus yang lebih ringan rakyat akan merasa skeptis terhadap segala kebijakan pemerintah. Rakyat sementara in masih menyangsikan manuver politik meski dalam kemasan kemanusiawian dalam bentuk apapun, label untuk perjuangan demi pencerahan untuk rakyat akan sia-sia saja, apalagi bagi mereka para petinggi / mantan petinggi nasional yang berkiprah politik.

Seperti even tanggal 1 Pebruari 2010 yang lalu, ketika sebuah Manifesto dibacakan oleh Anies Bawesdan Rektor Universitas Paramadina Jakarta., tentang penataan demokrasi. Tidak tanggung – tanggung lagi manuver politik itu dihadiri oleh Jusuf Kalla, Surya Paloh, Wiranto, Megawati dan Taufik Kiemas, Akbar Tanjung dan masih banyak lagi. Benarkah manuver politik itu mengatas namakan rakyat dan lebih jauh lagi hendak mensejahtarakan rakyat.

Namun kebalikan dengan kenyataan yang aa di era sekarang, berdasarkan data yang diperleh dari survey Dirjen Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan melaporkan bahwa sebanyak 70 juta penduduk Indonesia tidak memiliki jamban. Kondisi ini bisa kita jadkan suatu barometer analisis sosial masyarakat kita, bahwa untuk kebutuhan yang vital saja kita masih jauh dari sejahtera. Terbesit di hati kita akan rasa pilu yang mendalam dengan adanya kasus bunuh diri, orang tua yang membunuh anaknya, seorang ayah yang bunuh diri karena tidak kuat membayar biaya rawat anaknya yang dirumah sakit dan kasus lainnya.

Oleh karena itu, hendaklah kita mampu berpikir bijak, dalam artian langkah apapun untuk menggapai stabilitas nasional, harus tetap merujuk pada pola pengorbanan para Pahlawan Nasional dalam bersikap ikhlas, mau berkorban, mengutamakan kepentingan negara dibanding dengan kepentingan pribadi. Sehingga dapat kita katakan, bahwa bagi mereka yang tergolong Pahlawan Nasional menempatkan harga diri bangsa dan negara diatas semuanya. Untuk sementara apabila kita belum mampu merealisasikan rembug nasional yang mulia ini, alangkah baiknya bila diantara kita semua yang sama-sama terlibat dalam cita-cita Negara Proklamasi ini hendaknya mampu menahan diri dan berhati sejuk. Mengutamakan ketentraman dan kedamaian kehidupan kita semua, seperti yang dirintis oleh para Pahlawan Nasional kita. Karena sikap mental positif yang tertanam pada diri kita masing-masing, sesuai dengan peran sosial kita, adalah tidak berbeda jauh denga pengorbanan para Pahlawan Nasioanal kita. Oleh ; Ir. BAMBANG SUKMADJI GURU MA Futuhiyah -1. MRANGGEN, DEMAK

quick weight loss