Mahabharata



Loading...
Arjuna terduduk diatas lantai kereta dan mulai terisak-isak. "Bagaimana aku bisa mengarahkan anak panahku kepada Bhisma atau Drona, yang seharusnya aku hormati? Aku tak tahu ada kerajaan yang cukup berharga untuk dimenangkan dengan begitu banyak pertumpahan darah. Apa nilai kemenangan itu?" (hal 181 - 182).

Mahabarata bukanlah nama yang asing bagi telinga orang Indonesia. Kisahnya sudah sering kita dengar, terutama kelompok yang dikenal dengan sebutan: Pandawa Lima. Dalam kebudayaan Jawa dan Sunda, kisah ini menjadi sumur ide yang habis-habisnya dalam sajian wayang.

Kisah Mahabarata dimulai dari perkawinan Raja Santanu dengan dewi Gangga yang melahirkan Bhisma. Raja Santanu juga memperistri Setyawati yang memberikannya anak, Citragada dan Wicitrawirya. Sayangnya, kedua anaknya itu gugur sebelum menghasilkan keturunan. Bhisma yang bersumpah untuk tidak menikah mencari jalan keluar untuk melanjutkan keturunan ras Kurawa. Singkatnya, para menantu Setyawati pun dibuahi oleh seorang resi yang melahirkan Destarastra yang buta dan Pandu yang berkulit pucat.

Dari pasangan Pandu dan dewi Kunti lahirlah Yudhistira, Bhima dan Arjuna. Sedangkan dari istrinya yang lain, dewi Madrim, Pandu memperanak Nakula dan Sahadewa. Kelima anak Pandu inilah yang menjadi tokoh protagonis dalam epik ini.

Destrarastra, sang raja memiliki seratus anak dari dewi Gandhari. Yang paling tua adalah Duryudana. Yang kedua, Dursasana. Dari kerakusan kedua bersaudara inilah lahir konflik belasan tahun antar keluarga, Kurawa versus Pandawa, yang berakhir dengan perang maha besar di padang Kurusetra.

Sebagaimana cerita kepahlawanan, maka Mahabarata sarat dengan filsafat dan wejangan bernapaskan ajaran Hindu. Salah satu puncak ajaran terkandung dalam kegalauan Arjuna untuk berperang seperti yang tertulis pada awal tulisan ini. Khrisna, sebagai penasehat utama pihak Pandawa memberikan petuah dan semangat kepada Arjuna yang semuanya terangkum sebagai Bhagawad-Gita.

Karma dan kelahiran kembali juga menjadi enerji bagi cerita besar ini. Kejadian karma yang pantas dicerna adalah kekalahan Karna, anak dewa Matahari yang berada dipihak Kurawa. Kebohongan dan kesalahan kecilnya justru mengakibatkan dirinya tidak mampu berkutik pada saat genting.
-

Naskah asli Mahabarata ditulis dalam bentuk syair dalam bahasa Sansekerta yang boleh jadi merupakan karangan terpanjang di dunia dengan lebih dari seratus ribu stanza. Tidak ada acuan yang pasti tentang siapa penulis pertama kisah ini, umumnya semua literatur merujuk pada satu nama: Vyasa. Entah itu merupakan nama satu orang (yang berarti resi bijaksana dan kekal) atau sederet penulis yang menggunakan nama yang sama.

Buku kecil yang ditulis R.K. Narayan (2000), yang juga menulis kisah Ramayana, cukup mengantarkan kita pada salah satu mitologi penting India yang juga berkembang di Indonesia, Mahabarata. Dalam buku setebal 228 halaman ini, R.K. Narayan sukses menceritakan ulang kebesaran epik yang telah bertahan berabad-abad. Penulis buku memainkan perannya sebagai perangkum kisah amat panjang ini menjadi jalinan sederhana yang bisa tetap enak dibaca siapa saja. Catatan-catatan kaki ditulis untuk memperjelas runutan kisah, maupun sebagai usaha memperingkas buku. Sayangnya R.K. Narayan kadang terlalu sadis meringkas sehingga momentum penting seperti pertemuan Karna dan ibu kandungnya -Kunti, menjadi datar-datar saja.

Buku ini diterjemahkan dari buku yang berjudul sama, "Mahabarata" akhir tahun 2004. Diterbitkan oleh penerbit BENTANG dengan No. ISBN: 979-3062-34-7.


http://victorlumunon.multiply.com/reviews/item/3.

quick weight loss