|
|
| Home | about matabumi | Contact | Newsroom | Komunitas | Top Score |
| Publik Bikin Berita | Features | Pengaduan & Protes | Bisnis Rakyat | Opini | Berbagi Cerita | Free Data | Gossip | News |
Komunikasi Politik Yudhoyono Memburuk
donny007 — Tue, 26/05/2009 - 23:35
Pasangan calon presiden-wakil presiden Susilo Bambang
Yudhoyono-Boediono dinilai defensif dan konservatif dalam menanggapi
kritik. Komunikasi politik Yudhoyono dinilai memburuk dibanding lima
tahun yang lalu.
”Pada 2004, SBY terlihat tenang dan simpatik,” kata pengamat politik strategis dari Universitas Pelita Harapan, Audy W.M.R. Wuisang, dalam diskusi bertajuk “Evaluasi Penampilan Perdana 3 Pasangan Capres” di Jakarta kemarin. Menurut Audy, Yudhoyono, calon presiden dari Partai Demokrat, maupun tim suksesnya sekarang cenderung frontal dalam menanggapi kritik yang ditujukan kepadanya. Sikap seperti ini justru bisa menjadi bumerang bagi SBY-Boediono. “Pasangan lain lalu menciptakan inovasi untuk mematahkan politik pencitraan SBY,” katanya. Calon presiden dari PDI Perjuangan, Megawati, misalnya, menurut Audy jadi lebih aktif. Gaya bicaranya pun berubah dari sebelumnya. Sedangkan Jusuf Kalla dinilai pintar menunjukkan sisi entertain-nya. “Menarik sekali melihat dia melepas sepatu dalam sebuah dialog,” ujar Audy. “Wacana komunikasi seperti inilah yang memberi nuansa segar bagi pemilihan presiden tahun ini.” Audy membuat empat kategori untuk menilai para kandidat, yaitu kecepatan, konsistensi, pembaharuan, dan performa fisik. Untuk kecepatan, menurut dia, pemenangnya adalah Kalla-Wiranto, yang diusung Partai Golkar dan Hati Nurani Rakyat. Mereka dinilai cepat dalam menanggapi semua isu. “Konsistensi dimenangi Mega-Prabowo. Konsep ekonomi kerakyatan mereka tertuang nyata dalam deklarasi,” kata Audy. Untuk pembaruan, ia menilai dua pasangan unggul, yaitu Kalla-Wiranto dan Mega-Prabowo. Alasannya, konsep yang mereka usung merupakan koreksi dan perubahan terhadap sistem sebelumnya. Sedangkan pasangan SBY-Boediono, kata Audy, menang dalam kategori terakhir, yaitu performa fisik. “Secara fisik, SBY adalah presiden impian.” Soal isu neoliberalisme yang ditudingkan kepada SBY-Boediono, menurut Audy, hal itu memang susah dihindari. “Pesaing berupaya mencari musuh bersama, dan neoliblah yang disalahkan dan dijadikan terdakwa,” ujarnya. Hal senada disampaikan Nur Iman Subono, pengamat politik dari Universitas Indonesia. Menurut dia, neoliberalisme hanya isu musiman. “Isu ini cuma hangat-hangat tai ayam,” ujarnya. “Isu itu hanya menjadi cara untuk mengalahkan yang lain. Paling tidak, untuk bahan kampanye agar laku keras." Kepada ketiga pasang calon presiden-wakil presiden, Nur Iman lebih tertarik menanyakan komitmen mereka terhadap demokrasi, yakni ihwal kebebasan pers, pemberantasan korupsi, dan representasi rakyat. “Saat ini Indonesia mengalami defisit tiga hal tersebut,” katanya. Setelah mencermati penampilan perdana ketiga pasang calon presiden-wakil presiden, kedua pengamat tersebut belum berani menyimpulkan mana pasangan yang paling unggul. “Ini akan makin menarik dan meriah. Rasanya tak akan selesai dalam satu putaran,” kata Audy http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/26/headline/krn.20090... |
||||
| Direksi | Office | Disclaimer | Sitemap | Copyright @ 2007 |
Powered By
|