Kisah Di Balik Layar tentang Demo Antikorupsi yang Berlangsung Damai



CATATAN DEMO ADHIE MASSARDI
Di Balik Aksi Damai Glandes

KAMIS, 10 Desember ‘09. Pagi masih buta. Bunyi pesan pendek (SMS) yang masuk ke telepon selular, yang memang selalu berada tak jauh dari jangkauan, membangunkan saya. Ternyata dari petinggi Polda Metro Jaya. Isinya: “Asswrwb. Yth Mas Adhie, terima kasih atas Unras damainya. Semoga membawa manfaat bagi negara dan bangsa. Wass.”

Karena beberapa kesibukan, baru pukul 10.00 saya jawab SMS pertinggi Polda Metro Jaya itu. Tentu saja jawabannya juga singkat: “Semua ini berkat kerjasama kita yang sangat kondusif…!”

Terus terang, memang tidak mudah menyelenggarakan aksi damai yang melibatkan puluhan ribu massa, seperti terjadi saat lebih dari 45 elemen pergerakan memperingati Hari Anti-Korupsi Sedunia pada Rabu, 9 Desember lalu. Padahal semua orang tahu, kegeraman rakyat pada pemerintahan Yudhoyono, terutama dalam hal menyikapi skandal keuangan Rp 6,7 T Bank Century, terus meningkat.

Tantangan lain, pada hari H, rencana aksi nyaris terganggu gara-gara ada kekuatan jahat yang mendatangkan hujan besar di kawasan Monas. Setelah beberapa kiai NU didatangkan dan membacakan do’a khusus, dua jam menjelang acara hujan pun reda. Tapi di kawasan pintu masuk Jakarta, hujan tetap lebat. Membuat arus massa dari luar Jakarta tersendat.

Pada saat yang nyaris bersamaan, di kawasan Bundaran HI, ratusan massa pro SBY juga menggelar aksi, dengan sandi “Arus” (aksi rusuh yang dikemas dengan akronim Aliansi Rakyat untuk SBY). Menurut kabar Arus dibiayai oleh bendahara Partai D. Dimaksudkan sebagai “aksi tandingan”. Artinya, kalau yang kami gelar “aksi anti-korupsi”, maka tandingannya otomatis “aksi pro-korupsi” dong!

Kami juga mencium ada skenario membuat khaos aksi damai 9 Desember yang digelar Gerakan Indonesia Bersih, terutama dengan pernyataan Presiden Yudhoyono yang “mengriminalisasikan” aksi demo dan terus diulang bahwa “demo ditungangi” dan “bakal rusuh”, dikembangkan hingga gerakan “makar”.

Untuk menggagalkan “skenario khaos” yang pasti akan sangat menguntungkan pemerintah, karena dengan alasan itu bisa menangkapi para penggerak aksi dengan tuduhan kriminal, penyulut tindak anarkis, kami segera berkoordinasi dengan Polda Metro dan Mabes Polri. Ini pilihan tepat. Karena menurut perhitungan kami, Polri pasti sudah kapok jadi alat kekuasaan setelah kasus “cicak vs buaya” ternyata menghancurkan integritas dan krdibilitas Polri di mata rakyat.

Alhamdulillah, perhitungan kami tentang Polri ternyata akurat. Di lapangan, aparat kepolisian sangat akomodatif. Namun demikian, kami tetap waspada. Sebab sehari sebelumnya, di Jakarta TNI melakukan latihan “perang kota” yang patut dapatdiduga untuk “mengingatkan” para tokoh yang berada di belakang Gerakan Indonesia Bersih. Apalagi setelah kelar latihan, sejumlah kendaraan amphibi lapis baja milik Marinir, yang suaranya mencekam, melewati depan kantor pusat PP Muhammadiyah di Menteng Raya, Jakarta.

Benar, PP Muhammadiyah memang menjadi “markas besar” Gerakan Indonesia Bersih, meskipun alamat surat GIB di Masjid Istiqlal Ruang 13. Di sinilah kami menyelenggarakan rapat-rapat perencanaan. Jangan salah, rapat-rapat kami dihadiri perwakilan dari bagian intel Polda Metro.

Tetapi kunci aksi massa 9 Desember 2009 berlangsung damai, tentu saja, Prof Dr Din Syamsuddin. Beliau bukan saja mempertaruhkan integritas dan kredibilitas pribadinya, tapi juga institusinya, PP Muhammadiyah, yang diikhlaskan menjadi markas pergerakan kaum muda anti-korupsi, yang saya yakin lebih dari 75 persen tidak dikenalnya secara pribadi. Banyak di antaranya malah baru dikenal saat itu.

Prof Din juga yang membantu meyakinkan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan tokoh keagamaan lain untuk mendukung Aksi Damai GIB. Kepercayaan yang luar biasa dari Prof Din, memang dibayar kontan oleh para peserta aksi dengan langkah damai.

Tapi saya tidak yakin, apabila dengan cara damai sikap Pemerintah Yudhoyono dan DPR tetap tidak serius membongkar tuntas (tas! tas!) skandal Bank Century, apakah Prof Din Syamsuddin dan para tokoh keagamaan bisa meredam kegeraman rakyat yang turun ke jalan?

Sejarah yang akan membuktikan semua ini.

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/0000/00/00/85082/CATATAN-DEMO-ADHIE-...

quick weight loss