Jika tidak ditangani secara tepat, krisis keuangan akan menjelma
menjadi krisis kemanusiaan di kemudian hari. Keresahan sosial dan
ketidakstabilan politik akan meningkat, memperparah persoalan lainnya.
Bahayanya, sebuah rangkaian krisis satu sama lain saling menghantam
dengan potensi menghancurkan semua pihak."
Demikian peringatan
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon di Doha,
Qatar, pada konferensi ekonomi dan pembangunan yang disponsori PBB, 29
November 2008.
Hal ini senada dengan isi laporan Dewan Intelijen
Nasional (NIC): ke depan, potensi konflik akan terjadi akibat perebutan
sumber kekayaan alam dan buah dari terbentuknya kekuatan multipolar,
yakni AS, India, Rusia, China, Eropa, dan Indonesia juga disebut-sebut
ada di dalamnya.
Kekuatan AS, walau masih dominan, sudah mulai
tergerogoti. Laporan ini sengaja dikeluarkan untuk memberi tahu di mana
posisi AS kepada presiden AS terpilih, Barack Obama.
Adakah cara
untuk mencegahnya? Ada, setidaknya lewat dua hal. Pertama, dengan
terciptanya tatanan baru internasional yang menyatukan kekuatan
benevolent yang bertindak sesuai kaidah internasional untuk menghadapi
kekuatan malevolent. Ini penting untuk mencegah dunia dari benturan
peradaban seperti diramalkan Samuel P Huntington.
Ada optimisme
hal ini akan terwujud, yakni ambisi Presiden Obama, yang pada hari
Senin, 1 Desember 2008, menjanjikan akan memperkuat kembali aliansi
lama dan mengembangkan kemitraan baru. Dia berjanji akan
mengombinasikan strategi pertahanan dengan diplomasi andal.
Janji
lainnya, memperkuat badan-badan internasional, menjadi kekuatan penyatu
semua bangsa, bukan dijadikan "mainan" sebagaimana terjadi di bawah
Presiden George W Bush, presiden dengan popularitas terburuk sepanjang
sejarah kepresidenan AS.
Menlu AS yang baru, Hillary Clinton,
menyahut dengan mengatakan, "Kita akan menciptakan dunia dengan harapan
baru ketimbang ancaman."
Namun, ada pesimisme. "Kepemimpinan
kelompok eksklusif seperti G-7 dan G-20 sangat dibutuhkan, tetapi
selama ini bertindak tidak inklusif, kehilangan legitimasi, dan
kehilangan efektivitas," kata Asisten Sekjen PBB untuk Pembangunan
Ekonomi Jomo Kwame Sundaram.
Sundaram menyarankan, "Karena itu,
sangat penting untuk meredesain tatanan internasional lewat proses yang
melibatkan banyak pihak dan menampilkan wajah multilateralisme."
Multilateralisme
juga amat dibutuhkan untuk mengatur sektor keuangan, yang bergerak
liar, menjadi ajang spekulasi. Hasilnya adalah spekulasi harga
komoditas seperti minyak yang berlebihan, yang harganya meroket. Sektor
keuangan yang liar juga melahirkan penipuan dengan kucuran kredit
berlebih ke sektor perumahan AS. Hasilnya adalah kebangkrutan lembaga
keuangan kaliber internasional. Efek domino kebangkrutan sektor
keuangan adalah krisis ekonomi global.
Krisis terburuk
Karena
itu, hal kedua yang harus diatasi adalah krisis ekonomi yang terjadi
sekarang, yang dipicu krisis di sektor keuangan itu. Ekonom PBB, Rob
Vos (Direktur Divisi Kebijakan dan Analisis PBB), mengatakan skenario
terburuk untuk 2009 adalah produksi domestik bruto global anjlok 0,4
persen, atau terburuk sejak 1930-an.
Skenario optimistis
menunjukkan PDB global tumbuh 1,6 persen, turun dari pertumbuhan 2,5
persen pada 2008 dan lebih buruk dari 3,5-4 persen empat tahun
sebelumnya. Skenario medium, PDB global tumbuh hanya 1 persen. Semua
skenario memperlihatkan dunia sedang memasuki tahun 2009 yang kelam.
Untuk
mengurangi kemiskinan global sebesar satu persen, dibutuhkan
pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen. Anjloknya PDB global akan
menambah kemiskinan. Inilah ketakutan Sekjen PBB tersebut.
Studi
empiris pernah dilakukan tahun 1999 oleh K Michael Fingerand dan Ludger
Schuknecht untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) berjudul "Special
Studies: Trade, Finance, and Financial Crises". Isinya, krisis yang
dipicu sektor keuangan, memiliki kesempatan lebih besar menjungkalkan
ekonomi.
Krisis sekarang ini menimpa negara-negara termaju,
seperti AS, Eropa, dan Jepang, penyerap utama permintaan dunia. Namun,
hal ini berdampak dahsyat terhadap berbagai negara, dengan dunia yang
sudah saling terkoneksi. Kaum termiskin dunia, sebagaimana dikatakan
Ban Ki-moon, adalah yang paling terpukul. Penurunan bantuan
internasional adalah satu hal yang sudah pasti turun.
Perdagangan
internasional juga pasti akan turun. Sejumlah perusahaan multinasional
sudah mengeluhkan lesunya ekspor. Saran umum yang dianjurkan adalah
penggenjotan anggaran pemerintahan, mengompensasi penurunan konsumsi
swasta dan investasi. Indonesia mencanangkan stimulus ekonomi.
Kepemimpinan
di negara kita sedang sangat dibutuhkan, sebagaimana Franklin D
Roosevelt yang dikatakan berhasil melepaskan AS dari krisis.
Kepemimpinan tidak saja dalam bentuk penambahan pengeluaran, tetapi
juga kemampuan menghilangkan distorsi perekonomian, seperti pungli,
korupsi, dan pelayanan birokrasi yang melempem.
Menurut ekonom
Peru, Hernando de Soto, birokrasi yang melempem adalah buah dari
kepemimpinan dan elite politik yang melempem. Masihkah bisa menerima
elite yang melempem?
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/05/05430269/dunia.memasuki.tahun....