|
|
| Home | about matabumi | Contact | Newsroom | Komunitas | Top Score |
| Publik Bikin Berita | Features | Pengaduan & Protes | Bisnis Rakyat | Opini | Berbagi Cerita | Free Data | Gossip | News |
Danarto: Kiamat Memang Makin Dekat
muin — Mon, 05/10/2009 - 06:37
BUDAYAWAN Danarto bikin kaget banyak orang. Setelah memperoleh Achmad Bakrie Award 2009 berhadiah Rp 150 juta, ia segera Berikut perbincangan dengan dia di Jakarta, belum lama ini. Mengapa Anda begitu percaya kiamat bakal terjadi pada 2012?
Nah, karena semua kabar itu ditulis secara meyakinkan oleh para ahli, saya memang mempercayai. Dan karena percaya, saya memohon kepada Allah agar tidak ikut mengalami kiamat yang memang makin dekat saja itu. Saya berharap mati lebih dulu. Anda yakin akan mati lebih dulu? Secara instingtif saya yakin akan mati lebih dulu dan tidak mengalami kiamat itu. Yang saya tahu penyair Taufiq Ismail juga percaya kiamat bakal terjadi pada 2012. Dia juga ingin mati lebih dulu. Tentu tak semua percaya. Separo teman percaya. Separo teman tak percaya sama sekali. Saya heran mengapa ada teman yang tidak percaya. Ini benar-benar ilmiah. Tak ada hubungan dengan kabar dari Alquran atau nubuat Nabi.
Karena Anda ingin mati lebih dulu sebelum kiamat terjadi, apa yang Anda persiapkan menjemput sang maut? Tapi kan dari sekarang 2012 bukan waktu yang lama. Masa Anda menyongsong maut dengan cara yang dingin dan tampak santai? Ya, memang makin dekat. Karena itu, kita sesungguhnya menjadi makhluk terakhir di muka bumi. Anda tidak ngeri menghadapi hal ini? Saya ngeri...saya takut...karena semua yang ada di muka bumi akan lenyap dalam sekejap. Dan jika kita cermat, maka sebenarnya tanda-tanda kiamat itu sudah muncul di berbagai belahan bumi. Di Sumatera muncul gunung berapi 4600 km dari dasar lautan dengan diameter 50 km. Kabar yang menakutkan ini memang kemudian dibantah oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), tetapi kian dibantah, orang kian percaya telah muncul fenomena alam yang tak lazim di sekitar mereka. Seorang teman di Swiss juga mengalami hal serupa. Cuaca berubah panas mendadak (36 derajat Celcius) dan mendadak pula jadi dingin (15 derajat Celcius). Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta suatu hari hujan deras, tetapi di dalam rumah panas luar biasa. Ketika kepada Seno Gumira Ajidarma saya bilang, ”Wah ini tanda-tanda kiamat!”, Seno sama sekali tidak percaya. Tentu saya tak mamaksa siapa pun untuk percaya. Apakah ada tanda-tanda berasal dari Alquran yang mendukung prediksi bangsa Maya ini? Di Alquran Surat 33 Ayat 63 termaktub, ”Siapa tahu kiamat sudah dekat?”. Tapi segala yang saya katakan tak berkait dengan Alquran. Jadi Anda percaya kiamat kian dekat hanya karena membaca buku Kiamat 2012? Saya percaya setelah membaca buku itu. Dulu saya percaya dan terkenang hanya pada Alquran yang menyatakan, ”Siapa tahu kiamat sudah dekat? tapi tak mendapatkan alasan penjelas. Kini saya mendapatkan gambaran kiamat yang sejelas-jelasnya. Bahkan kini ada film Knowing yang menggambarkan ledakan yang dahsyat dan akan muncul film bertajuk 2012 pada 13 November.
Karena menganggap tinggal punya sedikit waktu, dalam waktu yang tak banyak itu, apa yang akan Anda lakukan? Jika itu terlaksana, nulis novel tentang kiamat juga selesai..., apakah Anda yakin tindakan Anda berpengaruh pada orang lain? Setelah saya ngomong tentang kiamat di Majalah Tempo buku Kiamat 2012 laris manis. Ini menunjukkan sebagian besar orang percaya pada omongan saya atau paling tidak penasaran terhadap segala yang saya katakan. Anda tak khawatir dianggap sebagai teroris yang menyebarkan berita menakutkan? Saya justru merasa bersalah jika tidak memberi tahu. Karena itu saya memborong buku Kiamat 2012 ke berbagai pulau di Indonesia. Bagaimana kalau kita mulai menulis cerpen-cerpen tentang kiamat? Tapi terus terang saya ragu apakah Goenawan Mohamad percaya pada omongan saya... Anda juga tidak khawatir dianggap sebagai sosok frustrasi karena dihajar asma sehingga seenak sendiri ngomong tentang kiamat?
Ha
ha ha...saya tentu tak ingin mengajak orang takut berbarengan. Biarlah
saya ketakutan sendiri...Biarlah saya khawatir sendiri...Saya hanya
ingin orang lain mengerti betapa saya khawatir dan takut menghadapi
kiamat yang kian dekat ini. Saya bersyukur kesusastraan dihargai tinggi. Hanya, sayang penghargaan ini tidak datang dari pemerintah. Pemerintah tampaknya masih harus berpikir berkali-kali untuk memberi penghargaan karena dianggap mustahil memberikan jalan keluar bagi problem-problem bangsa. Padahal, kita tahu, para sastrawan sepakat betapa lewat kesusastraan kebenaran bisa diutarakan. Kesusastraan juga bisa digunakan sebagai perintis kemajuan bangsa. Yang menarik, Goenawan Mohamad, misalnya, senantiasa menggunakan kesenian untuk mengutarakan kebenaran. Ia melihat kebenaran dalam kesenian untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang berkecamuk di dalam masyarakat meskipun ia tak percaya kesenian bisa meletuskan sebuah peristiwa sosial. Anda diminta menolak hadiah itu karena yang memberi dianggap bertanggung jawab terhadap bencana Lumpur Lapindo. Apa reaksi Anda? Saya menduga penanganan musibah Lumpur Lapindo sudah selesai. Ternyata masih berlarut-larut. Tentu saya prihatin terhadap hal ini. Namun, saya --juga mungkin Tardji, Putu, dan Rendra-- tidak mungkin menolak hadiah ini karena pertama, saya beranggapan manajemen penghargaan lebih dulu ada ketimbang musibah. Kedua, keluarga Bakrie tidak mangkir membayar ganti rugi. Apakah saya tidak punya hak untuk merasakan sedikit dari penghargaan itu? Seorang bandit yang merampok bank pun jika karya-karyanya bagus, bisa mendapatkan penghargaan. Jadi harus dibedakan antara karya dan perbuatan seseorang yang merugikan masyarakat. Tapi sudahlah, saya toh membagi-bagikan hadiah itu kepada teman-teman sebelum kiamat datang...mengapa harus kita perdebatkan terus-menerus...Saya toh tidak memakan sendiri hadiah itu...Tak ada gunanya segala duit dan kekayaan saat kiamat datang...(35) Profil: Danarto, Sragen, 27 Juni 1940. Pendidikan: SMA Sastra di Solo, ASRI Yogyakarta (1958-1961), dan International Writing Program, Universitas Iowa, Iowa, USA (1983). Pekerjaan: 1968-1975, ia bekerja di bagian publikasi Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), mengajar di Seni Rupa LPKJ (IKJ). Ia juga bergabung dengan Teater Sardono yang melawat ke Eropa barat (1974). Karya-karya: Habis Tak Sudah (1968), Godlob (1975), Adam Ma'rifat (1982), Orang Jawa Naik Haji (1983), Berhala (1999), Asmaraloka (1999, Gergasi (1993), Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001), dan Kacapiring (2008). Penghargaan: Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, Hadiah Buku Utama 1982, SEA Write Award 1988 dari Kerajaan Thailand, dan Achmad Bakrie Award 2009. (Triyanto Triwikromo/)http://m.suaramerdeka.com Foto/Video/Audio
|
||||
| Direksi | Office | Disclaimer | Sitemap | Copyright @ 2007 |
Powered By
|