Irwansyah, PENGUSAHA KERAJINAN WAYANG GOLEK
Wisatawan Eropa bukan hanya Membeli
tapi Juga Belajar Ndalang
KERAJINAN wayang golek makin diburu wisatawan manca Negara, khususnya dari Eropa dan Amerika. Mereka bukan hanya membeli wayang golek sebagai souvenir tapi juga mempelajari bagaimana memainkan wayang golek.
“Bagi mereka yang mau belajar, kami juga memberi kursus singkat. Biasanya yang mengambil kursus mereka yang sudah cukup lama di Indonesia dan segera kembali ke negaranya. Nah bekal pendidikan mendalang ini untuk dipakai mereka di negaranya..Itung-itung ‘oleh-oleh’ dari Indonesia. Di sisi lain, hal ini juga membantu bagi penyebaran budaya Indonesia, khususnya budaya sunda, ke luar negeri,” ungkap Irwansyah, pengusaha kerajinan wayang golek yang ditemui Tokoh dalam sebuah pameran kerajinan binaan BUMN di JCC Jakarta, baru-baru ini.
Irwansyah yang juga cucu dalang terkenal asal Jawa Barat, Abah Asep Sunarya, mengungkapkan memulai usaha kerajinan wayang golek dan segala pernak perniknya tahun 1983. Baginya wayang golek bukan hal yang baru karena sejak kecil dia telah bersentuhan dengan kesenian tanah Sunda itu. Maklumlah keluarga besarnya boleh dibilang hampir semuanya berkecimpung di bidang ini, baik sebagai dalang ataupun pengusaha kerajinan. Kakek buyutnya adalah dalang terkenal Abah Djauhari, sedang ayahnya adalah pengusaha wayang golek terkenal.
Karena memang sudah mendarah daging, maka ketika besar Iwan—begitu namanya akrab disapa--- pun mengikuti jejak orangtuanya.
“Selain menjual wayang souvenir dan pernak pernik wayang, saya juga membuat wayang untuk ndalang. Salah satu pelanggan saya adalah uak saya, Asep Sunarya. Untuk abah yang pengalaman ndalangnya sampai ke manca Negara, saya membuatkan wayang-wayang yang unik. Misalnya, wayang yang kepalanya bisa bergoyang, atau bisa muntah, atau yang lidahnya bias menjulur dan mata berkedip-kedip. Tapi hanya untuk wayang dalang, sedang wayang souvenir hanya sedikit mengalami perubahan,” papar Iwan yang bermukim di Giri Harja, Jalekong Kec Baleendah, Bandung Selatan, Jawa Barat, sebuah desa yang dikenal sebagai desa pengrajin kesenian.
Booming
Mungkin karena sejak lahir sudah berkecimpung di bidang itu maka ketika ia merintis usaha yang sama, Iwan pun tak merasa canggung. Dia tahu kemana saja produk karyanya harus dilempar (dipasarkan). Tak heran meski pemain baru tapi Iwan cepat menanjak. Apalagi ia tidak hanya menjual wayang golek semata, tapi juga membuat inovasi-inovasi produk seperti gantungan kunci, frame hingga lukisan wayang.
Di bidang pemasaran pun relative tidak mengalami kesukaran, selain karena produknya memang memiliki kekhasan juga karena wayang golek dianggap wisatawan asing, khususnya dari Eropa dan Amerika sebagai sesuatu yang unik.Makanya mereka bukan hanya gemar mengoleksi tapi juga bersedia mempelajarinya. “Buat yang ingin belajar mereka membeli satu set yang isinya sekitar 150 karakter,” ujar Iwan seraya menyebut salah satu pelanggan setianya yakni buyer dari Prancis.
Booming usaha Iwan ini terjadi tahun 2000 sampai tahun 2005, saat itu pesanan demikian membludak sehingga mereka sangat kewalahan. Setelah itu penurunan pun terjadi, meski tidak drastic. Namun demikian aku Iwan, dirinya tak terlalu khawatir karena usahanya tidak hanya mengandalkan pada penjualan retail tapi juga membuat produk-produk wayang untuk para dalang yang jumlahnya lumayan banyak. Selain itu, tandas Iwan lagi, ia juga melakukan ekspor rutin ke Eropa.
Menolak Pesanan
Sebenarnya, lanjut Iwan, peluang ekspor terbuka luas untuk wayang golek. Hanya saja, kata Iwan lagi, kadang buyer asing tidak mau tahu kalau membuat wayang itu bukan hanya sulit tapi juga butuh waktu yang lama karena handmade, tak jarang mereka memesan dalam jumlah yang sangat banyak.
“Mungkin orang yang tak mengerti mengatakan saya menolak rejeki, tapi sebenarnya tidak. Belum lama ini saya menolak pesanan 1 kontainer wayang golek. Bukannya saya tidak mau untung, tapi satu container pasti sangat banyak sekali, saya cuma dikasih waktu 6 bulan…Wah yang benar saja! Dikasih waktu 1 tahun saja saya tidak sanggup, apalagi hanya 6 bulan,” tutur Iwan.
Ketidaksanggupannya bukan karena modal yang tidak mencukupi tapi karena memang pengerjaan wayang golek tidak mudah. “Buyer dari Korea minta dikirim satu container, saya tolak. Lho, bikin wayang ini kan tidak pakai cetakan, semua dikerjakan secara manual. Kira-kira satu wayang butuh waktu 5 hari. Nah kalau ribuan pasti butuh waktu lama,” jelas lelaki yang mempekerjakan 21 orang (14 perajin 7 desainer) untuk usahanya ini.
Bicara persaingan, diakui Iwan, cukup ketat. Namun demikian ia tak khawatir karena produknya memiliki keunggulan tersendiri. Misalnya pada pengecetan dan raut wajah. Khusus untuk raut wajah meski sudah ada pakem tertentu, tapi biasanya produk Iwan ‘dibubuhi’ pernak-pernik lain sehingga tampak berbeda dari produk lain. Begitu juga dalam hal pengecatan. Produk Iwan lebih cerah, warna ini seiring dengan waktu akan berubah menjadi lebih bagus (meredup).
“Wisatawan Eropa kuirang suka warna ngejreng. Mereka senang dengan warna redup. Nah produk lain langsung mengecat dengan warna redup, padahal seiring dengan waktu warna itu akan berubah kurang bagus. Sedang produk saya memang dicat dengan warna lebih terang, warna itu akan berubah meredup seiring waktu. Makin lama akan makin bagus warnanya,” jelas Iwan yang baru saja pulang dari Bali untuk sebuah kerjasama pemasaran dengan sebuah galeri seni. ***korantokoh