|
|
| Home | about matabumi | Contact | Newsroom | Komunitas | Top Score |
| Publik Bikin Berita | Features | Pengaduan & Protes | Bisnis Rakyat | Opini | Berbagi Cerita | Free Data | Gossip | News |
Pesona Batu-batuan Berusia Jutaan Tahun
citra — Wed, 25/06/2008 - 16:47 SEMPAT ‘ditampar' Krismon 1998 tidak membuat Asep Suhendra beralih dari usaha kerajinan batu alam yang ditekuninya sejak tahun 90-an. Walhasil, berkat ketekunan dan keuletannya Asep berhasil bertahan bahkan telah melakukan ekspor ke berbagai Negara. "Sempat oleng ketika dihantam krismon, maklum kita menggunakan produk impor seperti amplas dan gergaji. Amplasnya dari Jepang, produk local belum ada," ungkap Asep. Tekad Asep untuk tetap menekuni usaha kerajinan batu alam tersebut bukan sekadar bisnis semata, namun ada alasan lain di balik itu yakni mempertahankan kebanggaan keluarga. Usaha ini memang telah turun temurun ditekuni keluarga Asep yang tinggal di Sukabumi, Jawa Barat. Ayahnya sendiri memulai itu dari tahun 1950-an kemudian diteruskan Asep dan saudara-saudaranya. Sedang Asep sendiri ‘resminya' memegang usaha tersebut tahun 1990. "Makanya saya berjuang agar bisa eksis. Meski sempat jatuh, saya berusaha bangun lagi. Modalnya adalah kesabaran dan ketekunan, alhamdullilah saya bisa eksis lagi," lanjutnya. Menurut Asep peluang berkembangnya kerajinan batu-batu alam, masih terbuka lebar. Bahkan prospek ekspor sangat baik karena penyuka kerajinan ini kebanyakan justru dari luar seperi Eropa, Amerika, bahkan belakangan Asia dan Timur Tengah ikut memburunya. Sayangnya ‘pemain' pribumi di bidang ini tidak terlalu banyak. Sebaliknya, peluang ini ditangkap oleh orang-orang asing, namun mereka terbentur dengan izin usaha. "Untuk mendapatkan izin berusaha di sini (Indonesia) mereka mengambil cara menikahi wanita pribumi. Ini memang salah satu tantangan bagi pengusaha pribumi. Umumnya mereka dating dengan modal besar, peralatan lengkap. Sedang pengusaha pribumi bisanya terbentur dalam hal permodalan dan peralatan," papar Asep panjang lebar. "Kebanyakan dari Korea dan Thailand. Di Tangerang Jawa Barat saja, ada sekitar 20 pengusaha asing berbisnis di bidang ini," tambahnya. Meski demikian, Asep mengaku tidak takut. Meski pengusaha pribumi modalnya tidak sebesar asing, namun tetap saja dalam kreativitas ada keunggulan tersendiri. Batu-batu alam itu bisa dibentuk menjadi macam-macam kebutuhan, dari souvenir, perlengkapan rumah tangga hingga meubel. Selain model, daya tarik batu alam adalah batu itu sendiri yang telah digosok sedemikian rupa sehingga memunculkan warna asli batu tersebut. Warna-warna alamiah dari batu yang berusia jutaan tahun itulah yang konon amat disukai oleh wisatawan Eropa, khususnya. Namun belakangan wisatawan Asia bahan Timur Tengah pun mulai memburunya. "Belakangan saya mendapat langganan ekspor ke Taiwan, Jepang dan Arab Saudi. Buat saya ini pertanda baik dibanding tahun 2007 lalu yang agak lesu," katanya. Material kerajinan batu alam macam-macam, di antaranya fosil kayu, jaster, kristal, giok, dll. Umur batu-batuan ini jutaan tahun yang kemudian digosok untuk memunculkan aneka warna. Karenanya meski kita melihat kerajinan batu-batu alam ini beraneka warna, itu bukan karena cat melainkan memang warna alami batu. "Untuk menggosoknya kami gunakan diamond dari Jepang, produk local belum ada. Hasilnya benar-benar bagus, batu menjadi halus dan warna alaminya muncul terang," kata Asep yang mempekerjakan 20 orang perajin tetap. Ditipu Buyer Asing Sebagai pengusaha yang sudah belasan tahun bergelut di bidang ini, tentunya sudah memiliki pengepul sendiri yang memasok batu-batuan tersebut. Umumnya kata Asep, batu-batuan juga kayu fosil didapat dari pegunungan sekitar Lebak, Banten, Jawa Barat, Garut selatan, Tasikmalaya selatan, Jambi, Lampung bahkan hingga Kalimantan. Sejauh ini kata Asep, dirinya tak pernah kesulitan dalam pengadaan material. "Tapi sekarang yang sedang ‘in' alias popular adalah batu bacan dari Ambon. Harganya sekitar Rp 10 juta perkg. Karena harganya yang relative mahal, ya, pembelinya hanya orang tertentu saja. Umumnya konsumen membeli fosil kayu, selain harga terjangkau juga unik. Perkg paling mahal Rp 60.000, paling murah Rp 5000 tergantung mutu fosil kayunya," jelasnya seraya menambahkan, hitungan perkg itu bila konsumen membeli dalam partai besar minimal 20 ton. Seperti umumnya pengusaha, maka Asep pun memiliki segudang kisah suka-duka dalam menggeluti usahanya. Salah satu yang tak dilupakannya adalah tertipu buyer asing. Ketika itu si buyer asing memesan dua container, namun hanya membayar satu container dengan alasan pengiriman satu container tidak diterimanya, alias salah alamat. "Wah,..mana mungkin? Dua container itu dikirim dengan alamat yang sama, masak satu nyampe, yang lain tidak. Nilainya sekitar Rp 110 juta. Tapi ya sudah, meski rugi tapi saya tidak perpanjang lagi masalah itu. Kejadian itu merupakan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam bertransaksi dengan buyer asing," ungkapnya. Lalu bagaimana dengan pembeli dari Indonesia? Menurut Asep, tidak banyak hanya orang-orang tertentu yang umumnya penyuka seni saja yang tertarik membeli kerajinan batu alam. Selain itu, juga tergantung kondisi ekonomi Indonesia. "Menjual kerajinan batu, kan, tidak sama seperti berdagang sembako. Makanya hasilnya pun tak bisa rutin. Jadi menggeluti bisnis ini perlu kesabaran dan ketalenan," katanya. Melihat respon pasar di luar lebih baik, Asep berencana mengikuti pameran kerajinan di luar negeri. Persiapan sudah dimulai, termasuk membuat aneka kreasi dari batu alam. ***tokoh Foto/Video/Audio
|
|||||
| Direksi | Office | Disclaimer | Sitemap | Copyright @ 2007 |
Powered By
|
selamat untuk bpk.asep
hallo bpk asep. saya mau tanya disini saya mempunyai batu2an seperti bpk asep punya. saya ingin sekali menjualnya. saya berharap bpk.asep mau bekerjasama dengan saya. kalau boleh tahu saya minta nomor hp bpk. kirimkan ke email saya peaciepepci@yahoo.com
terimakasih