PENGUSAHA KERAJINAN BATIK KAYU



DI MANA ada kemauan di situ ada jalan. Motto itulah yang menghantar Suroso Dhani, seorang yang awalnya bekerja sebagi buruh perajin di sebuah perusahaan kerajinan, menjadi sukses di bisnis kerajinan. “Modalnya keyakinan, kemauan dan ketekunan,” ungkap Suroso Dhani yang produk batik kayunya menjadi salah satu unggulan kabupaten Gunung Kidul. Ketika kreativitas batik pada kayu belum banyak dilirik orang, lelaki bertubuh subur ini telah memulainya.

Awalnya tutur Suroso, dia hanyalah seorang perajin biasa yang bekerja di sebuah perusahaan perajin khusus batik kayu. Ketika itu tahun 1989, belum banyak kerajinan jenis ini di pasaran. Dia menyadari kalau hanya sebagai perajin biasa dengan penghasilan pas-pasan tak mungkin mampu mengembangkan diri lebih dari kemampuan yang dimilikinya saat itu. Padahal ia memiliki banyak ide yang bisa dikembangkan. “Tapi ide saja tak cukup, dibutuhkan modal, jaringan juga kemampuan memasarkan produk. Dan itu harus dipelajari. Maka saya memutuskan untuk terus bekerja sambil belajar. Hal ini tentu butuh kemauan yang kuat serta ketekunan,” paparnya.

Nyatanya tak sia-sia, 12 takun tekun belajar segala hal, ia pun siap berkiprah. Dengan modal yang dikumpulkannya sekitar Rp 3 jutaan, mulailah Suroso terjun ke bisnis ini. “Saya menangani produksi, mulai awal sampai finishing,” tambahnya. Ia memang sengaja memilih berusaha di bidang yang sama---batik kayu--- karena melihat sekalipun ‘pemainnya’ pada 2001 telah menjamur, namun prospek di bidang itu tetap terbuka lebar karena kerajinan batik kayu banyak digemari orang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Yang penting kita kreatif, rajin berinovasi dan jeli melihat kemauan pasar. Intinya tetap batik, sedang mediumnya tidak selalu kayu tapi bisa juga bamboo, dll. Produknya bukan hanya hiasan rumah, tapi bisa juga peralatan rumah tangga seperti nampan, tempat buah, bahkan furniture. Bahkan buyer bisa meminta atau memesan produk sesuai dengan keinginannya. Desain dari mereka murni, atau kombinasi dari kami, itu biasa dilakukan,” tutur Suroso yang menegaskan produknya lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. “Sekarang ini banyak sekali produk batik kayu tapi kualitasnya—maaf—agak kurang. Finishingnya tidak sempurna benar sehingga hasilnya agak kasar. Misalnya model topeng, tanpa dipoles melamin, sehingga hasilnya kasar. Harganya memang jauh lebih murah. Tapi saya tak mau seperti itu. Kualitas bagi saya yang utama makanya harga produk saya mungkin lebih mahal.

Saat finishing kami menggunakan propan yang sudah teruji toksinnya. Toksin harus rendah. Pembeli asing biasanya sangat memperhatikan hal tersebut. Jangan sampai kita dikomplain karena hal-hal semacam itu. Tapi lagi-lagi, terserah konsumen. Mau murah tapi mutu kurang, ya, silakan saja. Saya sendiri tak mau ikut-ikutan ‘banting’ harga, bisa rugi. Pernah ada konsumen meminta turun harga karena menurutnya harga produk saya mahal. Tapi saya jelaskan alasan saya. Syukurlah mereka mau mengerti. Dan buktinya pelanggan saya tetap ada, bahkan yang baru pun berdatangan. Itu artinya, pilihan saya menjaga mutu produk adalah tepat,” papar Suroso yang ciri khas produknya pada kehalusan juga pewarnaan.

Pembibitan Kayu

Bicara soal harga, menurut Suroso selain ditentukan oleh desain juga oleh jenis kayu yang digunakan. Ia sendiri menggunakan beberapa jenis kayu untuk produknya, di antaranya albasia, sengon laut, puleh juga terbelo puso. Di antara itu yang paling mahal adalah produk menggunakan kayu terbelo puso. Namun ada juga yang meminta dibuatkan dengan jenis kayu mahoni atau jati. Tapi untuk dua jenis kayu terakhir ini biasanya pesanan khusus. Karena materialnya selain lumayan mahal juga tidak mudah didapat. Begitu juga kayu puleh yang belakangan makin sulit didapat.

“Kalau mau nanam 15-20 tahun lagi baru dapat digunakan. Beda dengan albasia. Karena itu harga produk kayu puleh pun lebih mahal,” jelasnya. Untuk mengatasi masalah material ini, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Perhutani setempat, juga dengan kalangan akademisi seperti Universitas Gadjah Mada untuk mengembangkan pembibitan kayu. Selama ini pengembangan pembibitan sudah berjalan untuk jenis sengon dan mahoni. Kabupaten Gunung Kidul, papar Suroso, kerajinan batik kayu merupakan salah satu unggulan, maka pihak Perhutani, Pariwisata dan Perindustrian ikut membantu guna menunjang pengembangan industri kerajinan tersebut. “Sambil menunggu hasil pembibitan tersebut, untuk sementara kami membeli material dari Ponorogo dan Pacitan. Tentu saja harganya jadi jauh lebih mahal,” ucapnya.

Kebanyakan Lewat Pengepul

Masalah lainnya adalah pemasaran. Sampai saat ini kebanyakan produknya dipasarkan ke luar lewat trading, tidak ekspor langsung. Memang ada juga satu-dua pelanggannya yang merupakan buyer asing, namun jumlahnya pemesanannya tidaklah banyak.

“Kebanyakan lewat pengepul atau asosiasi, khususnya untuk pembelian dalam partai besar. Karena melalui pengepul, keuntungan yanag diperoleh pun tidak banyak. Si pengepul biasanya membeli dengan harga murah, kemudian dia (pengepul) menjual lagi ke manca Negara dengan harga tinggi,” tambah Suroso yang mengaku rajin berpameran agar bisa lebih luas memasarkan barangnya ke manca Negara. Bali, katanya, adalah salah satu ‘pintu’ untuk bisa mendapatkan buyer asing. Karena itu ia banyak memasok produknya ke art shop-art shop yang banyak bertebaran di Pulau Dewata itu.

Karena sudah cukup lama berkecimpung di bisnis ini, Suroso pun hafal buyer manca Negara dan kegemarannya. Umumnya penggemar batik kayu dating dari Jepang dan Negara Eropa lainnya seperti Belanda dan Spanyol. Untuk Jepang, kebanyakan lebih suka produk-produk yang fungsional bukan aksesoris atau pajangan. “Meski tidak banyak, pembeli dari Amerika juga ada beberapa, tapi mereka biasanya suka yang harganya murah,” tambah Suroso yang baru saja mendapat orderan dari buyer Amerika berupa 18.000 pieces plate. “Meski tidak banyak, namun orderan ini cukup lumayan, sebab situasi penjualan sekarang ini sedang lesu. Untuk mengerjakan ini, saya dikasih waktu 3 bulan,” ujarnya. Di bengkel kerjanya Suroso mempekerjakan 20 orang perajin tetapi kalau order sedang banyak, biasanya ia menambah pekerja lepasan yang memang banyak terdapat di sekitar kampungnya. Suroso sendiri menyebutkan bahwa usahanya ini tidak semata-mata mencari keuntungan tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi banyak warga di kampungnya. “Yah, ikut membantu mengurangi pengangguran di kampung saya,” ujarnya rendah hati.
Foto/Video/Audio
Loading...
quick weight loss