|
|
| Home | about matabumi | Contact | Newsroom | Komunitas | Top Score |
| Publik Bikin Berita | Features | Pengaduan & Protes | Bisnis Rakyat | Opini | Berbagi Cerita | Free Data | Gossip | News |
Guru SMA yang Jadi Pengusaha Keramik
citra — Sat, 09/08/2008 - 23:59
MENJADI guru memang telah menjadi cita-cita Hardiman sejak kecil namun
berhasil meraih cita-cita sekaligus bisa menekuni hobi yang menghasilkan
keuntungan tidak terbayangkan olehnya. Begitulah perjalanan nasib Hardiman,
seorang guru yang sederhana namun berhasil menjadi pengusaha sukses tanpa
meninggalkan profesinya sebagai guru.
Tak banyak orang yang punya kesempatan seperti dirinya. Awalnya, Hardiman hanyalah guru biasa di SMK 5 Bantul, Yogyakarta, yang mengajar mata pelajaran seni kerajinan keramik. Hardiman berbeda dengan guru lainnya. Olehnya para murid bukan saja diajarkan teori dan praktek membuat keramik secara sederhana, tapi juga membantu mengembangkan kreativitas murid-muridnya dalam pembuatan keramik. Bagi Hardiman, seni membuat keramik bukan hanya sekadar mata pelajaran di sekolah tapi sesuatu yang telah menjadi hobinya sejak dulu. Untuk menciptakan karya-karya yang indah, Hardiman rajin bereksperimen, tak heran kalau kreasinya pun lain dari yang lain. Banyak pujian datang padanya, malah ada yang menawar ingin membeli karyanya. Tapi sejauh itu belum ada niatnya untuk mengembangkan hobinya ini menjadi bisnis. Latar Belakang Ekonomi Sampai akhirnya kesulitan ekonomi yang membuatnya berpaling mengembangkan hobinya. Dia menyadari kondisi perekonomian rumah tangganya harus diperbaiki demi masa depan dirinya dan anak-anak yang berjumlah empat orang. Maklumlah gaji sebagai guru tidak seberapa, sementara kebutuhan rumah tangga terus meningkat. Awalnya lelaki ini sempat bingung juga dalam mencari pekerjaan sampingan. Kemudian muncul ide mengembangkan kemampuannya tidak sekadar untuk hobi tapi sesuatu yang menguntungkan secara ekonomi. Dengan dibantu adik-adiknya, istri dan empat putranya, dia mulai mengerjakan relief-relief keramik. Karya mereka kemudian dititipkan pada galeri-galeri atau dititipkan pada teman untuk menjualkan. Ternyata sambutannya luar biasa. Relief keramik produksi Hardiman dan keluarganya sangat diminati orang. "Relief kami memang berbeda, khas. Kuncinya ada pada finishing dan pewarnaan," ungkap Sarono, Manajer Produksi yang menemani melihat-lihat produk keramik karya Hardiman. Usaha Hardiman semakin berkembang, kreasinya pun tidak hanya membuat relief tapi juga produk yang lain, seperti wadah aroma terapi, vas bunga, kap lampu, dll. Produknya khas di antaranya gambar yang timbul. Kalau keramik produk lain hanya dilukis biasa, tapi kreasi Hardiman, gambar dibuat timbul sehingga terkesan hidup. Belum lagi pemilihan warnanya yang sangat pas. Kekhasan lainnya, adalah pencetakan keramik dengan teknik putar, cetak tunas dan daun. Mungkin kekhasan inilah yang membuat usaha Hardiman yang diberi nama Tunas Asri Keramik tetap eksis sejak berdirinya 1989. Diakui Sarono, mempertahankan bisnis ini selama 15 tahun bukan hal yang mudah. Jatuh bangun telah dirasakan, namun yang terpenting adalah komitmen menjaga mutu dan servis pada pelanggan serta selalu kreatif, dalam artian selalu menghadirkan desain-desain baru sehingga tidak membosankan. Sekarang usaha handicraft Hardiman berkembang stabil dengan 50 orang pegawai yang cukup handal. "Dulu malah sempat 80 orang, namun ternyata jumlahnya terlalu besar dan tidak efisien. Sebab, tidak semua SDM mampu bekerja dengan baik, sehingga dilakukan perampingan. Justru hasilnya lebih baik," papar Sarono yang mewakili Hardiman datang ke Jakarta dalam rangka gelar pameran UKM di gedung Smesco Kementerian UKM Jakarta, baru-baru ini. Menurut Sarono, sejumlah buyer di luar negeri telah menjadi langganannya selama ini di antaranya; Jepang, Australia, Belanda, Jerman, dan kini tengah menjajaki kemungkinan ekspor ke negara-negara Timur Tengah. "Untuk yang Timur Tengah sedang negosiasi," tambahnya. Pencurian Desain Disadari bahwa persaingan di bidang handicraft, khususnya keramik semakin ketat belakangan ini. Situasi memang tidak seperti dulu, ketika pasar keramik masih lowong, belum banyak yang ‘bermain' (bisnis) di bidang ini. Di sisi lain, peniru desain makin tak tahu malu dalam aksinya. Hal ini kadang sempat ditakuti pengusaha handicraft yang merasa telah bersusah payah mencari ide desain, namun setelah jadi dengan mudah dicontek orang. Maka tak heran kalau ada beberapa pengusaha handicraft yang menunda memamerkan produk terbarunya dengan alasan tersebut. Sebagai alternatif, mereka membuat katalog-katalog yang memuat foto desain-desain terbaru, namun hanya boleh dilihat oleh buyer-buyer tertentu. Sayangnya usaha ini pun kadang tidak menjamin kalau desain mereka tidak ditiru orang. Tapi Hardiman tidak demikian. Dia tidak merasa perlu untuk menyembunyikan desain agar tidak dicolong orang lain. Sebab dia merasa yakin, tidak ada satu orangpun yang dapat meniru persis pekerjaan orang lain apalagi yang dikerjaan dengan tangan (handmade). Jangankan orang lain, kadang diri sendiri saja tidak bisa persis membuat produk yang sama.***cybertokoh.com Foto/Video/Audio
|
|||||
| Direksi | Office | Disclaimer | Sitemap | Copyright @ 2007 |
Powered By
|