Bambang (40) warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Kota , Kabupaten
Bojonegero rela menato wajahnya demi diterima menjadi pegawai negeri
sipil (PNS). Korban lainnya, Nanang, rela menato seluruh wajahnya
karena diiming-iming jadi pegawai negeri. Jadi waspadalah! Penipu ini
masih gentayangan mencari mangsa.
Awas! Penipu Itu Cuma Ingin Merusak Wajah Anda
Entah ingin membuat resah warga Bojonegoro atau sekadar iseng,
penipuan berkedok mencari calon PNS di lingkungan Pemkab terjadi di
Kota Ledre. Yang mungkin unik dan membingungkan warga, penipuan ini tak
mengambil materi dari korban, tetapi malah menato wajah korban hingga
bekas tato tak bisa dihilangkan.
Kedua orang yang menjadi korban
penipuan ini adalah Bambang (40), warga Desa Mulyoagung, Kecamatan
Kota, dan Nanang (30), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Kapas. Peristiwa
itu bermula ketika Kepala Desa Mulyoagung Sawiyono mendapatkan SMS dari
nomor ponsel seorang yang mengaku sebagai Asisten I (bidang
pemerintahan) Pemkab Kamsuni. Setelah mendapat SMS, tak berapa lama
kemudian orang itu lalu menelepon Sawiyono. SMS ataupun telepon itu
pada intinya meminta bantuan Sawiyono untuk mencarikan sekitar delapan
orang yang mau menjadi PNS di Pemkab Bojonegoro.
Tak
tanggung-tanggung, penipu itu meminta orang yang mau bertugas sebagai
intel di lingkup PNS Bojonegoro. Karena itu, orang tersebut butuh orang
yang sesuai dengan kriteria sebagai intel, yaitu badan harus tinggi dan
harus mau ditato.
Selama berkomunikasi, orang itu menggunakan
nomor ponsel 081391132xxx. "Waktu itu saya ditelepon seseorang yang
mengaku sebagai Pak Kamsuni. Karena memang mengira sebagai Pak Kamsuni,
saya percaya saja," tutur Sawiyono kepada Surya di Mapolsek Kota, Bojonegoro, Sabtu (11/10).
Dia
juga mengaku, rasa percaya kepada seseorang di ponsel itu tak hanya
pada bujuk rayuan, tetapi juga adanya pengaruh "ilmu" tertentu yang
dirasakannya saat penipu itu menelepon. "Entah mengapa kok saya percaya
begitu saja sama orang itu. Saya juga merasa setengah sadar saat
mengikuti petunjuk dari orang itu," tandasnya.
Penipu yang
mencatut nama Asisten I Pemkab Bojonegoro itu tak hanya menghubungi dia
satu-dua kali saja, tetapi hampir setiap 5-10 menit. Saat menghubungi,
biasanya penipu itu menanyakan apakah Sawiyono sudah mendapatkan calon
PNS atau belum. Selain itu, penipu itu juga memberi petunjuk apa yang
harus dilakukan Sawiyono setelah mendapatkan calon PNS.
"Awalnya
saya sempat bingung, siapa kira-kira yang mau menjadi PNS di
Bojonegoro. Lalu, saya ajaklah dua orang yang kebetulan saya kenal,
yaitu Bambang dan Nanang. Kalau untuk Bambang, saya kenal dekat karena
dia menjadi Kaur Keuangan di Desa Mulyoagung," paparnya.
Setelah
mendapatkan dua orang, Sawiyono kembali ditelepon penipu itu. Setelah
diberitahu jika ada dua orang yang mau jadi PNS, penipu itu lalu
meminta Sawiyono membawa dua orang itu ke tukang tato yang cukup
terkenal, yakni milik Abdul Wahid, Perumahan BTN Ngumpak Dalem,
Kecamatan Dander. Dia langsung membawa Bambang ke tukang tato itu pada
Jumat (10/10), sedangkan Nanang, setelah dikontak Sawiyono, dia segera
menuju tempat tato itu.
"Saat ke tempat itu saya sering dipandu oleh orang itu menurut saja karena setengah sadar," ujarnya.
Setelah
menato dua orang itu, dia lalu kembali ke rumah. Kemudian, pada Jumat
sekitar pukul 19.00, dia ikut tahlilan di tempat tetangga. Baru dari
situ, pikirannya terbuka dan mulai sadar bahwa dia ditipu. "Saya lalu
sadar, mengapa saya tak mengecek apa memang benar itu Asisten I atau
bukan. Setelah memberi tahu kepada Camat (Subadri), baru saya tahu
bahwa itu bukan nomor Pak Kamsuni. Saya lalu bilang ke Bambang dan
Nanang bahwa itu tipuan," ujarnya.
Ketika ditemui Surya di
rumahnya, seorang korban, Bambang, mengaku jika dirinya sempat
diberitahu Sawiyono jika butuh calon PNS. Saat dia berada di sawah,
Sawiyono menghampiri dan mengajak menjadi PNS. "Memang saya tak
berambisi jadi PNS. Namun, kalau memang ada kesempatan, tentu saja saya
mau menjadi PNS di bagian intel," katanya.
Ia mengakui, saat
didatangi Sawiyono dan mengajaknya menjadi PNS, tanpa berpikir panjang
dia langsung menyanggupinya. Dia juga tak berpikir terkait keinginan
penipu itu yang mengharuskan menato wajah sebagai syarat agar masuk
sebagai PNS di bagian intel. "Waktu itu saya juga setengah sadar
sewaktu wajah saya ditato. Saya baru sadar bahwa itu semua tipuan pada
Jumat malam. Tahu wajah saya ditato saya jadi syok dan menangis,"
ujarnya.
Setelah hal ini, dia tak tahu harus berbuat apa untuk
menghilangkan bekas tato yang menghias wajahnya. Pasalnya, tato yang
ada di wajahnya adalah tato permanen yang sulit dibersihkan. "Saya
belum tahu mau berbuat apa. Mungkin juga saya mau menuntut Kades agar
menghilangkan tato di wajah saya ini," tuturnya.
Kapolsek Kota,
Bojonegoro, AKP Supriyono mengaku telah menerima laporan dari Kades
Mulyoagung beserta dua korban penipuan PNS itu. Karena itu, pihaknya
berjanji akan secepat mungkin menyelidiki kasus unik ini. Pasalnya, di
Jatim, kasus penipuan ini yang ketiga kalinya. Yang pertama dan kedua
terjadi di Ponorogo dan Jombang.
"Kami juga akan berkoordinasi
dengan operator telepon untuk mengecek identitas penelepon itu.
Pasalnya, saat nomor itu kami hubungi, nomornya aktif, tetapi tak
diangkat," pungkasnya. **kompas