|
|
| Home | about matabumi | Contact | Newsroom | Komunitas | Top Score |
| Publik Bikin Berita | Features | Pengaduan & Protes | Bisnis Rakyat | Opini | Berbagi Cerita | Free Data | Gossip | News |
Rocket Queen Story : Filthy Sexy Cool
biroeabiz — Sun, 24/02/2008 - 10:45 Axl Rose sedang berbaring dalam keadaan telanjang di sebuah vocal booth yang gelap milik studio rekaman di Manhattan, untuk mengerjakan overdubbing yang tak lazim. Pita sudah mulai merekam, dan dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Di bawahnya terdapat Adriana Smith, seorang penari bugil imut berusia 19 tahun sekaligus pacar sang drummer. "Come on Adriana, make it real," Rose membentaknya, sambil berhenti di tengah hubungan seks. "Stop faking!" Pada sore yang hangat itu di musim panas 1987, Vic Deyglio sang engineer sudah menyiapkan mikrofon vokal berkualitas tinggi untuk merekam suara Rose dan Smith yang berhubungan seks - pada suatu ketika, dia harus lari ke dalam bilik rekaman untuk memperbaiki posisi mikrofon sementara mereka sibuk bercengkerama. "Itu seperti set film Ron Jeremy," kata Deyglio. Smith ingin membalas dendam terhadap Steven Adler, drummer Guns n' Roses, yang berselingkuh - lagipula, Smith lebih suka sang vokalis. "Saya rela melakukan apa saja yang diminta Axl," kata Smith, yang kini adalah seorang ibu berusia 40 tahun. "He's fuckin' magical." Walau dia sedang mabuk dan ketawa-ketiwi di hari itu, Smith akhirnya memberikan apa yang diinginkan Rose: Suara rintihannya yang sedang orgasme - yang terdengar jelas pada "Rocket Queen," lagu penutup album Appetite for Destruction - tidak dibuat-buat. Tapi ketika Adler mengetahui apa yang terekam pada album band-nya, sang drummer "murka," menurut Smith. Smith terhantui oleh sesi rekaman itu selama bertahun-tahun: "Saya akhirnya banyak minum alkohol dan menenggak obat-obatan untuk waktu yang lama, karena saya merasa sangat malu dan bersalah." Begitulah satu lagi hari yang edan di dunia Guns n' Roses. Sebelum mereka menyelesaikan album pertamanya, kehidupan kelima anggota band itu menjadi seperti sebuah kartun gelap yang penuh dengan seks bebas, kerusakan, alkohol dan obat-obatan. "It was just hard-core good times," kata Slash. "Kami pergi ke sana dan berbuat seenaknya." Tapi lain halnya dengan band-band seangkatan lainnya dengan rambut yang mekar di kancah Sunset Strip, G n' R berhasil menerjemahkan keliaran mereka ke musik yang abadi: hard rock yang sangar dan seksi, serta merupakan titik temu antara Aerosmith, The Sex Pistols, Lynyrd Skynyrd dan The New York Dolls. Sumber : http://www.rollingstone.co.id/?modul=detail&catID=56&key=269 Foto/Video/Audio
|
|||||
| Direksi | Office | Disclaimer | Sitemap | Copyright @ 2007 |
Powered By
|
videonya