Proses Menatah Wayang



Kerajinan ukir kulit terutama wayang kulit bisa disebut sebagai kerajinan yang memadukan seni dan sejarah wayang kulit. Kenapa? Karena untuk membuat wayang kulit memang harus melalui proses belajar tidak sebentar, membutuhkan keuletan, kemauan belajar yang tinggi dan rasa memiliki kecintaan akan seluk beluk perwayangan. Wayang kulit sebagai salah satu peninggalan atau warisan leluhur khususnya dari keraton Yogyakarta diharapkan menjadi contoh warisan yang dijaga dan dipertahankan demi kelangsungan keberadaan wayang kulit khususnya dan sebagai identitas kota Yogyakarta pada umumnya.

Gendeng adalah nama sebuah dusun kerajinan ukir kulit yang sampai sekarang terus mempertahankan keberadaan wayang kulit khususnya wayang kulit gaya Yogyakarta. Di sana akan ditemukan tenaga-tenaga terampil dan terasah dalam pembuatan wayang kulit. Ada sekitar 50 perajin yang aktif dalam bidang tatah sungging kulit yang terkumpul hampir di sepuluh sanggar.

Dekatnya sentra ukir kulit Gendeng dari Yogyakarta, sekitar 8 km arah selatan yang melewati jalur utama kota Bantul dan desa wisata Kasongan akan memudahkan para wisatawan menuju ke lokasi. Wisatawan yang datang akan menjumpai berbagai bentuk dan model wayang kulit dan melihat proses pembuatan wayang yang masih sederhana dan masih terjaga ketradisionalannya dalam pemrosesan, pembuatan pola, penatahan dan sungging atau pewarnaan.

Wayang kulit buatan Gendeng dikenal sebagai wayang kulit dengan kualitas yang bagus dan menjadi koleksi banyak kalangan, seperti museum, toko seni, dhalang, dan kolektor dalam maupun luar negeri. Mantan Presiden Soeharto, Gus Dur, dan Megawati dikenal sebagai salah satu kolektor yang mengoleksi wayang kulit gaya Yogyakarta buatan Gendeng.

Bagi wisatawan yang ingin meneruskan perjalanan, dapat mengunjungi sentra kerajinan kayu di dusun Krebet, kalurahan Guwosari, kecamatan Pajangan yang terkenal akan berbagai produk seperti topeng, wayang, sandal, dll, sentra kerajinan gerabah di desa wisata Kasongan dan sentra kerajinan patung primitif di dusun Pucung, desa Pendowoharjo, kecamatan Sewon. Dusun Gendeng terletak di desa Bangunjiwo kecamatan Kasihan berjarak sekitar 8 km arah selatan dari kota Yogyakarta.

PERAJIN -  WAYANG KULIT

 

Menatah Wayang Kulit

TATAHAN, dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa termasuk tahap penting dalam proses pembuatan sebuah Wayang Kulit. Pekerjaan menatah Wayang Kulit memerlukan konsentrasi, keterampilan dan rasa seni yang tinggi.

Perlu diketahui, tahapan-tahapan pemuatan sebuah Wayang Kulit meliputi penyiapan kulit yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan wayang : membuat corekan, yakni semacam sketsa bentuk gambar tokoh wayang yang akan dibuat; menatah wayang; menyungging wayang; dan yang terakhir memasang cempurit.

 

Peralatan

Sebelum mulai bekerja, seorang penatah harus menyiapkan peralatan menatah, terutama memeriksa apakah tatah-tatah yang diperlukan sudah cukup tajam atau belum. Ini perlu dilakukan, agar jangan sampai di tengah pekerjaannya konsentrasinya terganggu oleh adanya tatah yang tumpul, atau karena salah satu pertalatannya tidak tersedia.

 

Adapun jenis peralatan yang diperlukan adalah:

1. Pandukan, - yakni landasan tatah yang terbuat dari kayu sambi, kayu trenggulun, atau kayu sawo. Batang.kayu berdiameter sekitar 35 sampai 40 cm itu dipotong melintang. Pandukan yang telah terlalu lama digunakan akan bopeng-bopeng sehingga permukaanya tidak rata, dapat menggangu pekerjaan.

2. Tindih, - berupa logam seberat sekitar 2,5 kilogram. Biasanya terbuat dari kuningan. Namun, yang dari besi pun boleh. Penggunaan tindih terbuat dari timbal (timah hitam) tidak dianjurkan, karena sesungguhnya logam itu bisa meracuni tubuh manusia.

Tindih gunanya untuk menekan atau memberati kulit yang sedang ditatah. sehingga kulit itu tidak menggeser kesana kemari bila sedang dikerjakan.

3. Tatah, - paling sedikit harus tersedia 10 macam. Tatah ini harus dipelihara dengan baik, karena merupakan alat terpenting dalam proses pekerjaan. Pemeliharaannya, antara lain melumuri atau melapisi permukaannya yang tajam dengan malam batik, serta menyimpannya di tempat yang kering.

Namun, dari belasan jenis tatah itu, pada dasarnya dapat dibagi atas dua golongan besar, yakni tatah lantas atau tatah lugas yang mata tatahnya berupa garis lurus, dan tatah kuku yang mata tatahnya berupa lengkungan. Selain itu ada pula yang disebut tatah wali yang bentuknya beda dibandingkan bentuk tatah lainnya.

4. Ganden, - semacam palu besar terbuat dari kayu asem atau sawo. Ganden yang telah terlalu lama digunakan, akan rusak permukaan yang digunakan sebagai pemukul tatah. Bila ini terjadi, biasanya bagian yang rusak itu dipotong, lalu dihaluskan lagi. Namun, jika rusaknya telah parah, diganti dengan ganden baru.

Selain peralatan pokok di atas, ada beberapa peralatan tambahan berupa jangka, paku corekan, pensil jenis 2 H, mistar atau penggaris, penghapus, batu asahan, dll.

Wayang Kulit terbuat dari kulit hewan biasanya Sapi, Lembu, Kambing dan sebagainya tetapi ada wayang kulit yang dibuat dari kulit manusia [biasanya orang hukuman], walau hal ini masih "katanya".

Kulit terlebih dahulu diproses, kemudian dibuat "mal" nya sesuai jenis wayang yang akan dibuat, baru ditatah secara hati-hati oleh penatah wayang kulit.

 

Jenis Tatahan

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 16 macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu, pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta.. ,

1. Tatahan Tratasan, - untuk membuat pola semacam garis, baik garis lurus maupun yang melengkung lebar dan menyudut. Tatahan tratasan hampir selalu diselang-seling dengan tatahan bubukan, dengan maksud agar kulit di bagian yang ditatah itu tidak mudah patah atau robek.

2. Tatahan Bubukan, - berupa lubang-lubang kecil berderet, yang digunakan untuk membuat kesan gam­baran garis. Biasanya tatahan bubukan diseling dengan ta­tahan tratasan. Tatahan ber­seling antara tratasan dengan bubukan ini juga disebut tatahan lajuran atau tatahan lajur saja.

3. Tatahan Untu Walang, berupa garis-garis terputus. Tatahan ini lebih lembut daripada hasil tatahan tratasan. Alat yang digunakan untuk membuat tatahan untu wa­lang adalah tatah trentenan. Di daerah Yogyakarta dan se­kitarnya, tatahan untu walang disebut tatahan semut ulur.

4. Tatahan Bubuk Iring, atau Buk Iring - berupa lubang-lubang yang mem­bentuk deretan seperti huruf U. Biasanya tatahan ini digunakan untuk mengerjakan bagian wayang yang disebut ulur-ulur dan uncal kencana. Tatahan ini juga sering disebut bubuk ring atau bubukan iring.

5. Tatahan Kawatan, - yang juga disebut tatahan gubahan biasanya digunakan untuk `mengisi' sumping, bagian praba, dan gruda mungkur.

6. Tatahan Mas-masan, - bentuknya berupa deretan se­lang-seling antara titik dan ko­ma, yang biasanya digunakan untuk mengerjakan bagian uncal kencana, sumping, gruda mungkur, kalung dan jamang.

7. Tatahan Sumbulan, - yang biasanya dikombinasikan dengan tatahan mas-masan, digunakan untuk mengerjakan bagian kalung, jamang, dlsb.

8. Tatahan Intan-intan, - biasanya digunakan untuk ‘mengisi' bagaian sumping, berselang-seling dengan tatahan kawatan. Bentuk tatahan ini, yang juga disebut tatahan intan-intanan, seperti bunga mekar, tetapi Cuma separuh.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil bilamana memenuhi syarat tertentu. Persyaratan itu disingkat dengan akronim Mawi Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik, dan Kukuh. Selain syarat itu, ada lagi yang memberi syarat hampir serupa, yakni: Padang, Wijang, Ghukel, Resik, Semu, dan Wulet. ***

Foto/Video/Audio
Loading...

admin!!!

min, falsenya mengganggu bgt yoo tulung diclean bs gak???
quick weight loss