Manohara dan Kemewahan Semu Kerajaan Kelantan
Menjadi seorang putri seharusnya hidup dalam sebuah kemewahan. Akan
tetapi tidak selamanya begitu. Manohara Odelia Pinot mengaku hanya
mendapatkan kemewahan semu.
Mano mengaku ia memang sering
terlihat tampil mewah dengan gaun indah dan aneka perhiasan di
tubuhnya. Tapi perhiasan yang dikenakan saat tampil di publik itu bukan
miliknya. Semua hanya dipinjamkan.
"Perhiasan berlian itu punya raja. Mano hanya dipinjami. Pas pulang (dari acara.red), semuanya dilepas lagi sama bodyguard," cerita Mano setelah melakukan konpers di Markas Merah Putih, Jalan Biak, Petojo, Jakarta Pusat, Minggu (31/05/09).
Mano menuturkan pula bahwa dirinya memang benar mendapatkan uang dari pihak kerajaan, namun tidak pernah ia gunakan.
"Sempat
dikasihkan 3.000 Ringgit, tapi enggak pernah digunakan. Karena sulit,
harus menggunakan perizinan untuk menggunakannya," imbuhnya.
Untuk
mendapatkan uang sendiri, Mano pun kemudian membuat kue. "Terus terang
saja di sana Mano membuat kue," aku model cantik berusia 17 tahun
tersebut.
Tidak hanya terhadap dirinya, Mano juga angkat bicara mengenai sisi lain kehidupan di istana Kelantan.
"Di istana ada semacam waitresses (pelayan) yang satu bulannya hanya digaji 500 Ringgit. Mereka bekerja selama 24 jam," cerita Mano.
"Kalau
mereka memecahkan sebuah gelas, mereka harus menggantinya. Maka kalau
saya menggunakan uang itu, saya akan memilih untuk membagi-bagikannya
kepada mereka," ucap Mano prihatin.**detikhot
FBI & Kedubes AS Terlibat Pembebasan Manohara
Kisah Manohara Odelia Pinot bak drama. Demikian pula cerita kaburnya
model cantik itu dari Kerabat Kesultanan Kelantan saat berkunjung ke
Singapura. Agen khusus FBI, Kedubes Amerika Serikat (AS) dan KBRI
terlibat hingga Mano berasil bebas.
"Kita memang minta bantuan
FBI dan Kedubes AS serta KBRI. Mereka banyak membantu hinga Mano
berhasil pulang ke Indonesia," kata pengacara ibunda Manohara, Yuli
Andre Darma, kepada detikcom, Minggu (31/5/2009).
Kedubes AS
dilibatkan sebab Manohara mempunyai paspor sebagai warga negara adidaya
itu. Ayah Manohara, George Mann, berkebangsaan AS.
Andre Yuli menuturkan, keluarga dan tim pengacara berkoordinasi dengan
Kedubes AS dan KBRI Singapura setelah mendapat informasi dari orang
dalam Kesultanan Kelantan, Manohara akan ke Singapura. Manohara ke
Singapura bersama kerabat Kesultanan Kelantan untuk menjenguk Sultan
Kelantan yang dirawat di negeri Singa tersebut.
Tim
pengacara dan Daisy Fajarina sebenarnya akan terbang ke Singapura,
Kamis (28/5/2009). Namun rencana ini bocor ke Kelantan. Daisy dan
pengacaranya pun lantas menunda. "Akhirnya agar tidak mencolok Ibu
Daisy dan Dewi saja yang berangkat ke Singapura Jumat (29/5/2009).
Tentu kita tetap koordinasi dengan Kedubes AS dan KBRI," cerita Yuli
Andre.
Manohara berhasil bertemu Daisy di Hotel Royal Plaza Singapura. Mano berhasil kabur setelah
memencet-mencet tombol emergency lift hotel saat dipaksa pihak
Kesultanan Kelantan untuk dikunci di ruangan raja, di lantai 3 Hotel
Royal. Polisi Singapura berdatangan menolong Mano akibat bunyi tombol
tersebut.#detikhot
NOTE: MANOHARA NGAKU DISILET-SILET SUAMINYA...SADIS..YAAA!!
Kronologi Manohara Kabur dari Fakhry
Segala upaya dilakukan Manohara Odelia Pinot untuk bisa kabur dari
suaminya, Pangeran Kesultanan Kelantan Malaysia, Tengku Muhammad
Fakhry. Kisah Mano bak drama. Mano mandi berlama-lama sampai pintu
kamar hotelnya digedor-gedor, melawan disuntik hingga ditolong polisi
Singapura.
Mano
menceritakan, ia mendapat kesempatan untuk kabur ketika Sabtu
(30/5/2009) kemarin, keluarga Kesultanan Kelantan ke Singapura karena
Sultan Kelantan mengalami serangan jantung. Rencananya pihak Kelantan
akan berada di Singapura selama 5 minggu.
Namun ketika
Kesultanan mendapatkan informasi ibu Manohara, Daisy Fajarina juga ke
Singapura, kesultaan Kelantan tiba-tiba memutuskan untuk cepat-cepat
pulang.
"Ketika pihak Kerajaan tahu ibu mau ke sana, baru satu
malam, kita disuruh packing untuk pulang," cerita Manohara usai jumpa
pers di Markas Laskar Merah Putih, Jalan Biak, Petojo, Jakarta Pusat,
Minggu (31/5/2009).
Mano mengaku tahu ibunya ingin
menjemputnya di Singapura dari salah seorang anggota Kesultanan
Kelantan yang baik hati. Mano menolak menyebutkan nama anggota
Kesultanan yang sudah menolongnya itu.
Mengetahui Daisy akan datang, Mano pun melakukan segala upaya untuk
bisa meloloskan diri. Awalnya ia mencoba mengulur waktu agar tidak
segera dibawa pulang ke Kelantan dengan mandi berlama-lama. Kamar hotel
Mano di lantai 13 Hotel Royal Singapura sampai digedor-gedor.
Tapi
upaya Mano tidak banyak berhasil. Ia tetap dipaksa ikut turun. Pas saat
akan turun, Kesultanan Kelantan mendapat laporan Daisy sudah berada di
lobi hotel. Mano dilarang turun, tapi ia nekat ingin ke lobi. Model
yang menikah pada umur 17 tahun itu lantas dipaksa akan dibawa ke
ruangan Sultan Kelantan di lantai 3. Di ruangan ini Mano akan dikunci.
"Saya sempat mau disuntik tapi saya menolak," cerita Mano.
Tak
hilang akal, Mano kemudian memencet-mencet tombol lift sehinga polisi
Singapura pun datang. "Mereka lantas membawa saya ke sebuah ruangan.
Tak lama ibu datang. Saya langsung memeluk ibu," curhat perempuan
cantik itu.
Kepada polisi Singapura, Mano meminta agar tidak
dibawa kembali ke Malaysia. Setelah bertemu Daisy, Mano pun dibawa ke
airport dan kemudian terbang ke Jakarta. Perempuan yang mengaku
disilet-silet suaminya itu tiba di tanah air pagi pukul 07.30 WIB pagi
tadi.**detikhot
Keprihatinan Manohara Harus Jadi Pelajaran-
Kasus Manohara, harus jadi pelajaran bagi bangsa
ini. Di antaranya, agar setiap orangtua tidak mudah tergiur harta
sehingga mengawinkan anak-anaknya pada usia yang sangat muda.
"Kita
bersyukur kembalinya Manoha Odelia Pinot ke Indonesia. Kita prihatin
kasus yang menimpa Manohara dan mengharapkan bisa diselidiki dengan
transparan dan adil ," ujar Musni Umar, anggota juru bicara Eminent
Persons Group Indonesia (EPG Indonesia) dalam kerjasama antarbangsa
antara Indonesia dan Malaysia di Jakarta, Minggu (31/5) malam.
Kasus
ini, menurut Musni, kembali mengingatkan setiap orangtua yang ingin
menikahkan anaknya, harus mempertimbangkan kondisi psikologis dan
biologis anak. Apalagi, kalau sampai usia sang anak belum pantas kawin
karena masih di bawah umur.
"Laporan yang disampaikan Manohara ke
publik baru sepihak. Supaya berimbang dan adil perlu mendengar
penjelasan dari pihak suaminya dan Kedubes RI di Malaysia," ujarnya.
Musni
berharap, kasus Manohara diselesaikan secara hukum dengan
sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sehingga tidak mengganggu hubungan
baik masyarakat Indonesia Malaysia.
"Kasus Manohara harus
dihadapi dengan kepala dingin. Semua yang diungkapkan Manohara semoga
ada bukti hukumnya yang kuat seperti saksi, bukti penyiksaan dan
bukti-bukti lain, sehingga bisa ditegakkan keadilan," ujarnya.**KOMPAS
Saat Haid, Manohara Dipaksa Layani Suami
Daisy Fajarina terus berjuang untuk bertemu dengan anaknya, Manohara
Odelia Pinot. Mereka dilarang bertemu bahkan berkomunikasi setelah
menikah dengan putra Raja Kelantan, Malaysia, Tengku Temenggong
Muhammad Fakhry Petra, pada 26 Agustus 2008.
Didampingi
kuasa hukumnya, Afrian Bondjol "Boy" dari OC Kaligis & Associates,
dan pengacara keluarga, Yuri Darmas, Daisy mendatangi Direktorat
Perlindungan WNI di gedung Departemen Luar Negeri, Jumat (24/4) pagi.
Siangnya, Daisy menemui M Ridha Saleh, Wakil Ketua/Bidang Internal
Komnas HAM.
"Kami membawa bukti telah terjadi tindak kekerasan
dan kesewenang-wenangan terhadap Manohara sebagai warga negara
Indonesia yang ada di Malaysia," ujar Boy. Di lain pihak, Ridha
menyatakan pihaknya telah meminta dukungan Komnas HAM di Malaysia dan
berkirim surat ke kementerian luar negeri di Kuala Lumpur. Untuk
menanyakan tiga hal, yakni pengaduan tindak kekerasan, pelecehan warga
negara, dan pencekalan yang tidak beralasan.
Kepada kedua
instansi tersebut, Boy menunjukkan bukti rekaman suara Mano saat
menelepon ibunya, fotokopian surat keterangan dokter Naek L Tobing, dan
fotokopi surat Mano buat Tengku Fakhry. Berkas-berkas tersebut dibuat
saat Mano kabur ke Indonesia, antara Oktober 2008-Februari 2009.
Dalam surat keterangan pemeriksaannya, 31 Februari 2009, dr Naek L
Tobing mengungkapkan adanya kekerasan seksual yang dilakukan Tengku
Fakhry terhadap Mano. Demikian pernyataan dr Naek: "Bahwa Nyonya
Manohara, berusia 17 tahun mengeluh diperlakukan dengan kekerasan oleh
suami, misalnya dipaksa coitus (berhubungan seks) sewaktu haid. Akibatnya dia sedih dan bingung."
Dalam suratnya kepada Fakhry, Mano menuliskan bahwa Fakhry telah
menyakiti dirinya di malam pertama pernikahan mereka dengan memaksa
untuk berhubungan seks, padahal Mano sedang menstruasi. Mano menyebut
Fakhry sering tak bersikap dewasa, misalnya meminta Mano terus
mengganti nomor telepon seluler agar tidak bisa dihubungi teman.
Di akhir Februari hingga 9 Maret 2009, Fakhry mengajak Mano dan
keluarga Umroh ke Mekah. Lalu ia mencoba membujuk Mano kembali ke
Istana Kelantan seraya berjanji bahwa dirinya akan berubah jadi suami
yang baik, dan akan meresmikan pernikahan di Indonesia. Tapi nyatanya
selesai Umroh, Mano dipisahkan dengan keluarganya. Setelah itu, ibu dan
nenek Mano dicekal Pemerintah Malaysia.
Surat pencekalan yang
ditandatangani ketua Urusan Imigrasi Malaysia, Wan Teh Binti Abd Kadir,
tanggal 19 Maret 2009, ditujukan kepada Daisy, tanpa alasan.
"Pencekalan ini tidak berdasarkan hukum, karena Ibu Daisy bukan
koruptor, buron, atau teroris," jelas Boy.
Kemarin, Daisy juga
menanggapi soal caleg Jambi, Miqbal Ismali Fahmi, yang menyampaikan
pesan Raja Kelantan Malaysia, bahwa kasus yang dialami Manohara adalah
murni kasus perselisihan di antara anak kandung dan ibunya.
"Berita
itu bohong. Saya sudah telepon Pak Iqbal, karena saya kenal baik. Tapi,
ia membantah kalau dia bicara demikian. Pak Iqbal tahu bahwa Fakhry
melakukan kekerasan terhadap Mano," tegas Daisy.
Ibu cantik
ini menengarai ada upaya Raja Kelantan untuk mengadu domba keluarganya
dengan orang-orang yang diakui kerabat dekat raja. Daisy juga
mendapatkan informasi bahwa Mano diberi obat agar bisa cepat hamil.
"Obat ini meningkatkan hormon Mano sehingga beratnya dalam dua minggu
naik 8 kg, dan wajahnya jerawatan," ungkap Daisy.
Karena usahanya ini, Daisy mendapat teror lewat telepon private number.
"Dia bilang, 'hati-hatilah, orang Malaysia bisa meledak.' Ya, insya
Allah, saya percaya nyawa ada di tangan Tuhan. Saya masih ada harapan,
dan saya percaya, setiap orang punya kedudukan yang sama di mata hukum.
Tak ada yang kebal hukum, termasuk Raja Kelantan sekalipun," tutur
Daisy yakin. *kompas
Kasus Manohara Jangan Ganggu Hubungan Indonesia-Malaysia
Kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa
Manohara Odelia Pinot, warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia oleh
suaminya Pangeran Negara Bagian Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad
Fakhry diharapkan tidak mengganggu hubungan Indonesia dan Malaysia.
"Pemberitaan
kasus Manohara di berbagai media cetak dan elektronik yang dimunculkan
oleh Daisy Fajarina, ibunda Manohara, diharapkan tidak mengganggu
hubungan baik masyarakat RI-Malaysia," kata Juru Bicara Kelompok Pakar
(Eminent Person Group/EPG) Indonesia Musni Umar di Jakarta, Rabu.
Musni
menilai kasus tersebut adalah masalah pribadi yang dapat diselesaikan
keluarga Manohara dan Fakhry dengan sebaik-baiknya melalui mediator
pihak ketiga dari keluarga masing-masing.
"Kasus ini mencuat
karena kurang terjalin komunikasi, salah persepsi dan kurang memahami
dan menghayati sistem yang berlaku di kedua keluarga," katanya. Sesuai
ajaran agama, lanjut dia, kedua belah pihak harus mengutus juru damai
(hakim) dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Sebelumnya
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Deplu RI Teguh
Wardoyo mengatakan bahwa Deplu telah meminta Kementerian Luar Negeri
Malaysia bersikap kooperatif dalam menangani kasus KDRT yang menimpa
Manohara Odelia Pinot. Ia mengaku, beberapa hari yang lalu, pihaknya
telah berkirim surat kepada Kementerian Luar Negeri Malaysia untuk
meminta pertanggungjawaban moral terhadap Fakhry.
Selain itu,
pihaknya meminta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menjalin
komunikasi secara aktif dengan pemerintah Malaysia. "Demikian halnya,
kami yang di sini juga selalu menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar
Malaysia di Jakarta," katanya menambahkan.
Beberapa saat setelah
menerima laporan dari pihak keluarga Manohara, Deplu sudah meminta
Fakhry untuk melaporkan kondisi Manohara di KBRI Kuala Lumpur atau KJRI
Penang. Tujuan pelaporan itu, lanjut dia, agar pihak keluarga Manohara
bisa tenang dan tidak mengundang sentimen berlebihan terhadap
pemerintah Malaysia.
Pemerintah Indonesia tidak bisa langsung
mengatasi persoalan tersebut, lantaran sampai saat ini Manohara masih
menjadi istri sah Fakhry. "Sangat tidak mungkin, kami langsung
melakukan penjemputan. Kasus Manohara ini berbeda dengan kasus yang
dialami para TKI dengan majikan," katanya menjelaskan.
Sementara
itu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta menilai kasus
Manohara-yang dinikahkan ketika masih di bawah umur-tak lepas dari
kesalahan orangtua. "Orangtua sudah seharusnya menjaga anaknya, kalau
di bawah umur jangan (dinikahkan), apalagi mereka kan bukan dari desa,
tapi orang terpelajar," kata Meutia.
WAH
Sumber : Antara
mano