Dialog Interaktif Tim Capres-Cawapres di Sumatera Barat



Target MDGs 2015 Perlu Kerja Keras Pemerintah Mendatang

Bertempat di studio SIPP Female FM, pada Rabu 30 Juni 2009 dilaksanakan Dialog Interaktif dengan tema "Membedah Keterkaitan Program Kerja Capres-Cawapres Terhadap Pencapaian Target Millennium Development Goals (MDGs) 2015". Kegiatan ini dihadiri oleh Yulman Hadi (JK-Wiranto), Hidayat, SS (Megawati-Prabowo) dan Munarfitnur (SBY-Boediono), dan Hendri Teja dari Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya (P3SD) sebagai panelis.

Kegiatan ini dibuka dengan pemaparan ringkas tentang target MDG's 2015 oleh Arham selaku sekwil JARI INDONESIA orwil Sumbar. Menurut Arham, MDGs atau biasa disebut Tujuan Pembangunan Milenium merupakan kesepakatan negara-negara yang ditandatangani pada tahun 2000 yang mesti  dicapai pada 2015. Arham juga menjelaskan bahwa MDGs berisikan delapan tujuan, (1) Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, (2) Mencapai pendidikan dasar bagi semua, (3) Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, (4) Menurunkan angka kematian anak, (5) Meningkatkan kesehatan ibu, (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain dan, (7) Memastikan Kelestarian lingkungan hidup (8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Atas kesepakatan itu, maka target MDGs menjadi tolak ukur dalam penyelenggaraan pembangunan di Indonesia, baik di tingkat pusat maupun di tingkat lokal.

Salah satu pancingan panelis yang cukup menarik adalah perihal standarisasi kemiskinan yang berbeda-beda. BPS, BKKBN, Bappenas maupun Departemen Sosial memiliki perbedaan dalam mendefinisikan kemiskinan. Munarfitnur dari tim SBY-Boediono memandang kalau satu-satunya data yang valid adalah BPS, sehingga data kemiskinan tetap didasarkan pada indikator-indikator yang ditentukan oleh pihak-pihak ekternal yang berkompeten. Sementara Yulman Hadi (JK-Wiranto) mengaitkan kemiskinan dengan persoalan daya beli masyarakat. Meskipun pendapatannya tinggi, tetapi bila daya belinya rendah maka seseorang tetap dapat dikategorikan miskin.

Menurut Hendri Teja, setelah 9 tahun  implementasi MDGs di Indonesia, masih banyak masyarakat bahkan aparat pemerintah tidak mengenal MDGs, tujuan dan arti pentingnya bagi upaya percepatan penciptaan tata kehidupan yang lebih baik. Kekurangpahaman masyarakat dan bahkan aparat pemerintah membuat pencapaian MDGs menjadi tertatih-tatih.Akibatnya MDGs secara praktek  belum banyak diwujudkan dalam bentuk rencana aksi yang konkrit.

"Mengingat target MDGs mesti tercapai pada tahun 2015, maka pemilu presiden 2009-2014 menjadi sesuatu yang sangat strategis. Target MDGs hanya akan tercapai bila pemerintah 2009-2014 mau berjuang keras mewujudkan komitmennya. Maknanya, pencapaian target MDGs 2014 akan sangat tergantung kepada komitment presiden dan wakil presiden yang terpilih dalam pemilu presiden tahun ini," papar Hendri Teja.

Dialog interaktif tim sukses capres-cawapres ini merupakan rangkaian kampanye MDGs di media massa yang diselenggarakan JARI INDONESIA. Pada pemilu legislatif yang lalu juga telah dilaksanakan kegiatan serupa. Rencananya, sebelum minggu tenang akan diselenggarakan kegiatan serupa di 4 stasiun radio yang tersebar di kota Padang dan Bukittinggi.**

Foto/Video/Audio
Loading...
quick weight loss